
Jakarta, CNBC Indonesia – Thailand menjadi negara terbaru yang mengkritik keras penyelenggaraan Asian Games Aichi-Nagoya di Jepang. Bahkan negara itu mengibaratkannya seperti permainan “kursi musik” yang “kacau”.
Para atlet mengeluhkan buruknya akomodasi serta penundaan yang lama di bandara dan saat hendak menempati akomodasi di kapal pesiar. Layanan transportasi yang tidak menentu menyebabkan bus yang mengangkut peserta menuju tempat latihan dan lokasi pertandingan datang terlambat, atau bahkan tidak muncul sama sekali.
Sebenarnya ajang olahraga terbesar di benua ini telah menghadapi berbagai masalah selama minggu pertama penyelenggaraannya. Beberapa tim melaporkan kekurangan jumlah kamar, sementara tim lain mengeluhkan kualitas akomodasi yang disediakan oleh penyelenggara.
Tidak ada perkampungan atlet tradisional yang dibangun untuk menampung 17.000 atlet dan ofisial membuat peserta harus menginap di pondok sementara bergaya kontainer, hotel, dan kapal pesiar Costa Serena yang bersandar di pelabuhan Nagoya. Perkampungan tak dibuat sebagai langkah penghematan biaya.
“Masalah ini terus terjadi, sejak awal hingga saat ini,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal Komite Olimpiade Nasional Thailand, Chalitrat Chandrubeksa, kepada AFP, dikutip Kamis (24/9/2026).
“Jumlah (kamar yang tersedia di) kapal pesiar dan hotel tidak sesuai dengan jumlah atlet kami yang sebenarnya,” tambahnya.
“Pada hari puncak, kami membutuhkan 201 tempat tidur di kapal pesiar, namun mereka hanya menyediakan 170… Saat atlet melakukan check-in dan mendapati nama mereka tidak ada dalam daftar, mereka harus ditempatkan di tempat lain; lalu ketika atlet baru tiba, atlet sebelumnya harus pindah dan mencari hotel lain,” ujarnya lagi.
“Situasinya seperti permainan kursi musik.”
Para atlet yang frustrasi telah mengungkapkan kekesalan mereka secara daring, termasuk keluhan mengenai kualitas makanan tertentu. Lebih dari 4.000 orang menginap di kapal pesiar di pelabuhan Nagoya dan 2.000 orang lainnya tinggal di pondok kontainer kayu yang sempit-yang oleh penyelenggara disebut sebagai “vila” tanpa ada kesan ironi sedikit pun.
“Kami mengatasi masalah ini dengan mencari akomodasi pengganti secara mandiri,” kata Chalitrat.
“Kami harus melakukan pemesanan sendiri dan membayar biaya makanan di muka menggunakan dana pribadi,” ujarnya.
Kekurangan fasilitas tersebut membuat tim Thailand harus menempatkan sebagian staf di lokasi yang cukup jauh dari pusat kegiatan pertandingan di kota Nagoya. Bahkan lokasinya berjarak sekitar satu jam 30 menit perjalanan dari Nagoya.
“Kami terpaksa menyewa kendaraan tambahan dari Tokyo agar mereka bisa bepergian untuk mendampingi para atlet… Situasinya sempat kacau,” tambahnya lagi.
“Kami hanya berharap dapat menjalankan dan menyelesaikan misi ini sebaik mungkin,” ujarnya.
Sementara itu, pihak penyelenggara pertandingan menyatakan pada hari Kamis bahwa mereka terus berupaya meningkatkan layanan bagi para atlet. Juru bicara panitia penyelenggara Asian Games, Hiroshi Koshizuka, mengakui adanya masalah transportasi, namun menegaskan bahwa “hal itu tidak berdampak signifikan terhadap jalannya pertandingan dan tidak ada satu pun nomor pertandingan yang tertunda”.
“Kami telah menyiapkan sistem untuk menanggapi keluhan dan kami akan menanganinya dengan sungguh-sungguh ke depannya,” ujarnya.
(sef/sef)
Leave a comment