Tekanan kemudian berangsur mereda hingga rupiah mampu berbalik ke zona hijau. Posisi penutupan hari ini tercatat 55 poin lebih kuat dibandingkan level pembukaan perdagangan.
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street ambruk pada perdagangan Rabu waktu setempat atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Penurunan tajam dipicu oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah sinyal dari pasar obligasi yang menunjukkan Federal Reserve (The Fed) dinilai mulai tertinggal dalam upaya mengendalikan inflasi setelah kembali mempertahankan suku bunga acuannya.
Dow Jones Industrial Average ditutup anjlok 1.153,18 poin atau 2,19% ke level 51.594,14, menjadi penurunan harian terbesar sejak April 2025.
Sementara itu, S&P 500 melemah 1,52% ke 7.316,15, sedangkan Nasdaq Composite turun 1,74% menjadi 24.442,94, sehingga indeks teknologi tersebut kini telah terkoreksi lebih dari 10% dari rekor tertingginya.
Dalam rapat kebijakan terbarunya, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan. Respons pasar obligasi langsung terlihat, dengan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak 7 basis poin hingga menembus 4,67%.
Sementara itu, yield obligasi tenor 30 tahun melesat 10 basis poin ke atas 5,2%, level tertinggi sejak 2007.
Meski tiga pejabat The Fed menginginkan kenaikan suku bunga, mayoritas anggota Federal Open Market Committee (FOMC) tetap memilih menahan suku bunga. Pernyataan tegas Ketua The Fed Kevin Warsh pun gagal meredakan kekhawatiran pasar obligasi.
“Saya ingin menegaskan bahwa keputusan komite ini sangat penting. Jika diperlukan dan dinilai tepat, kami tidak akan ragu untuk bertindak,” kata Warsh dalam konferensi pers usai rapat, dikutip dari CNBC International.
Namun, pernyataan tersebut belum cukup meyakinkan investor.
“Kalau benar-benar ingin membawa inflasi kembali ke 2%, saya rasa The Fed harus menaikkan suku bunga,” ujar pendiri DoubleLine Capital Jeffrey Gundlach dalam wawancara dengan CNBC.
Menurut Gundlach, lonjakan yield obligasi setelah pengumuman The Fed merupakan pesan langsung dari pasar kepada Warsh.
“Yield obligasi jangka panjang naik tajam setelah konferensi pers karena pasar obligasi pada dasarnya mengatakan, ‘Kalau Anda ingin kami percaya dengan retorika Anda, mulailah bertindak,'” ujarnya.
Kekhawatiran terhadap inflasi juga semakin meningkat setelah harga minyak dunia melonjak.
Hal itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Fox News bahwa AS akan menyerang Iran dengan keras sebagai respons atas serangan mendadak terhadap pasukan AS di Timur Tengah.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 6% dan ditutup di US$84,46 per barel.
Di sisi lain, tekanan jual juga terus menghantam saham-saham semikonduktor. iShares Semiconductor ETF (SOXX) merosot 5,5%, mencatat penurunan selama lima hari perdagangan berturut-turut.
Saham-saham chip berada di bawah tekanan sepanjang bulan ini seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap imbal hasil dari belanja besar-besaran untuk pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta meningkatnya persaingan dari China.
Saham Micron Technology dan KLA masing-masing anjlok sekitar 10%, sementara Advanced Micro Devices (AMD) turun 5,5%.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan berat pada hari ini di tengah banyaknya kabar buruk. Memanasnya perang, pandangan bank sentral AS The Fed yang semakin hawkish dan lonjakan harga minyak akan membebani pasar.
1. Perkembangan Perang
Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah sebuah drone menghantam kapal tanker penyimpanan gas milik AS, Energos Winter, di Pelabuhan Damietta, Mesir, pada Rabu waktu setempat. Insiden ini terjadi bersamaan dengan ancaman Presiden AS Donald Trump yang berjanji akan membalas serangan Iran terhadap pasukan AS.
“Kami akan menghajar mereka habis-habisan,” kata Trump kepada Fox News.
Militer AS mengklaim berhasil mencegat sejumlah rudal balistik yang diluncurkan Iran dalam serangan mendadak terhadap pasukan AS di Timur Tengah.
Perusahaan keamanan maritim Ambrey menyebut serangan drone memicu kebakaran di kapal yang kemudian merembet ke kapal lain. Sementara itu, Kementerian Perminyakan Mesir hanya mengonfirmasi adanya kebakaran di pelabuhan tanpa menyebut penyebabnya. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Eskalasi juga terjadi di berbagai front. Iran mengaku meluncurkan rudal ke pangkalan AS di Yordania dan menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz, sementara AS bersama Arab Saudi menggempur milisi pro-Iran di Irak.
Di Irak, kelompok Popular Mobilisation Forces (PMF) mengklaim sedikitnya 20 anggotanya tewas dan 32 lainnya terluka akibat serangan gabungan AS-Arab Saudi. Washington menyebut operasi tersebut merupakan balasan atas serangan drone terhadap fasilitas minyak Arab Saudi.
Sementara itu, militer AS mengklaim berhasil menggagalkan serangan rudal Iran terhadap pasukannya di Yordania. Militer Yordania juga mengatakan telah mencegat lima rudal Iran, sedangkan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengonfirmasi telah meluncurkan rudal ke pangkalan AS dan menyerang tiga kapal tanker di Selat Hormuz.
2. Harga Minyak Melonjak, Imbal Hasil Terbang
Harga minyak kembali melonjak pada perdagangan Rabu kemarin (29/7/2026). Harga minyak brent terbang 7,9% ke US$ 90,74 per barel sedangkan WTI melonjak 6,56% ke US$ 84,46 per barel.
Kenaikan ini menghapus tren harga minyak yang ambruk 16% dalam tiga hari beruntun sebelumnya.
Lonjakan harga minyak tentu berdampak besar terhadap risiko kenaikan inflasi sehingga bisa membuat suku bunga bisa menanjak.
3. The Fed Tahan Suku Bunga Tetapi Makin Hawkish
Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) kembali menahan suku bunga acuannya di 3,50-3,75% pada Rabu waktu AS (Kamis dini hari WIB). Namun, keputusan tersebut dibayangi sinyal bahwa peluang kenaikan suku bunga semakin menguat.
Keputusan FOMC diambil dengan suara 9 berbanding 3.
Tiga pejabat yang berbeda pendapat, yakni Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden The Fed Dallas Lorie Logan, menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps). Ini merupakan perbedaan suara terbesar terkait arah suku bunga sejak September 2016.
Dalam pernyataannya, The Fed menegaskan aktivitas ekonomi masih tumbuh solid meski ketidakpastian akibat konflik Timur Tengah tetap tinggi. Bank sentral juga mengakui inflasi masih berada di atas target 2%, sebagian dipicu gangguan pasokan dan kenaikan harga energi, serta menegaskan komitmennya menjaga stabilitas harga.
Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bank sentral tidak lagi akan memberikan forward guidance atau petunjuk mengenai arah kebijakan berikutnya. Meski begitu, ia menegaskan The Fed siap bertindak bila diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke target.
Minimnya sinyal dari Warsh membuat pasar harus menafsirkan sendiri arah kebijakan The Fed, di tengah ketidakpastian akibat konflik Timur Tengah dan potensi dampak AI terhadap inflasi. Meski inflasi AS melandai pada Juni, kenaikan harga energi dinilai berpotensi kembali mendorong tekanan harga.
Warsh sebelumnya menegaskan dirinya tidak memiliki toleransi terhadap inflasi yang telah berada di atas target bank sentral selama lebih dari lima tahun.
“Kami telah memulai babak baru dan memahami bahwa inflasi yang telah berada di atas target selama lebih dari lima tahun tidak bisa diselesaikan hanya dalam sembilan minggu atau hanya karena satu bulan penurunan harga yang moderat. The Fed tidak akan goyah dalam mengembalikan inflasi ke target 2%,” tegas Warsh.
Meski enggan mengungkapkan arah kebijakan berikutnya, Warsh menegaskan FOMC tidak akan ragu bertindak apabila diperlukan.
“Keputusan komite ini sangat penting, dan bila diperlukan serta dinilai tepat, kami tidak akan ragu mengambil tindakan,” katanya.
4. Data PCE AS Juni 2026 dan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026
Pada hari ini, AS akan mengumumkan data inflasi pengeluaran pribadi warga AS atau Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE). Indikator inflasi ini merupakan favorit Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan kebijakan.
Sebagai catatan, inflasi PCE AS naik 0,4% secara bulanan pada Mei 2026, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 0,5%. Sementara itu, core PCE yang tidak memasukkan harga pangan dan energi naik 0,3%, sesuai perkiraan.
Secara tahunan, inflasi PCE meningkat menjadi 4,1%, level tertinggi sejak April 2023, dari 3,8% pada bulan sebelumnya. Sementara core PCE naik menjadi 3,4%, tertinggi sejak Oktober 2023 dan masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.
Sejalan dengan itu, pada pertemuan Juni 2026, The Fed menaikkan proyeksi inflasi tahun ini menjadi 3,6% untuk PCE dan 3,3% untuk core PCE, menandakan tekanan inflasi diperkirakan masih bertahan.
Di hari yang ini, pemerintah AS juga merilis estimasi awal pertumbuhan ekonomi kuartal II. Setelah ekonomi tumbuh 2,1% pada kuartal pertama, pertumbuhan diperkirakan meningkat menjadi 2,2%.
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat dan inflasi yang belum kembali ke target dapat memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.
5. Rapat Bank of England (BoE)
Selain dari negeri Paman Sam, kawasan Eropa juga diperkirakan akan ramai hari ini.
Pasar Eropa akan dipengaruhi keputusan bank sentral, data ekonomi, dan laporan keuangan perusahaan.
Sorotan utama adalah rapat Bank of England (BoE) pada Kamis. Suku bunga diperkirakan tetap di 3,75%, sementara pelaku pasar akan memperhatikan hasil pemungutan suara anggota dewan dan sinyal kebijakan untuk mengetahui waktu penurunan atau kenaikan suku bunga berikutnya.
Di kawasan euro, perhatian tertuju pada PDB kuartal II yang diperkirakan tumbuh 0,2%, ditopang oleh pertumbuhan Spanyol (0,6%), Prancis (0,2%), Jerman (0,1%), dan Italia (0,1%).
Negara-negara utama Eropa juga akan merilis data inflasi awal Juli dan tingkat pengangguran. Inflasi kawasan euro diperkirakan naik tipis menjadi 2,9%, sedangkan tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 6,2%.
Di Jerman, Indeks Ifo Business Climate diperkirakan membaik untuk bulan ketiga berturut-turut. Swiss juga akan merilis data barometer ekonomi dan penjualan ritel yang diperkirakan menunjukkan perlambatan pertumbuhan.
6. GIAAS Resmi Dibuka
Pameran otomotif terakbar se-Asia Tenggara, Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 akan resmi dibuka pada hari ini, Kamis (30/7/2026) di ICE BSD City, Tangerang.
GIIAS merupakan pameran otomotif terbesar di Indonesia yang menjadi barometer industri kendaraan bermotor nasional.
Ajang ini tidak hanya menjadi tempat peluncuran model-model baru dan pengenalan teknologi, khususnya kendaraan listrik (EV), tetapi juga mendorong penjualan otomotif melalui berbagai program promosi.
Dampaknya meluas ke perekonomian karena meningkatkan aktivitas manufaktur, permintaan komponen, penyaluran kredit kendaraan, serta sektor pendukung seperti perbankan, asuransi, logistik, hotel, restoran, dan UMKM. Tingginya transaksi selama GIIAS juga dapat menopang konsumsi rumah tangga dan investasi di sektor otomotif, sehingga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, terutama pada kuartal III dan semester II tahun 2026.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
-
Pameran GIAAS 2026
-
Presiden melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah
-
Menteri Pertanian akan memberikan keterangan pers terkait perberasan nasional yang akan dilaksanakan di Lobi Gedung A, Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan
-
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri akan menghadiri konferensi pers pelaksanaan Indonesia Shopping Festival (ISF) 2026 bersama KADIN, GIPI, dan APPBI. Kegiatan akan dilaksanakan di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat
-
Konferensi pers paparan kinerja PT Bank Danamon Indonesia Tbk. pada semester I tahun 2026 secara virtual
-
Kunjungan Kehormatan dan Penandatanganan MoU antara Menteri Ekonomi dan Inovasi Republik Albania dan Menteri Perlindungan Pekerja Migran Republik Indonesia di kantor KP2MI, Pancoran, Jakarta Selatan.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
RUPS PT Janu Putra Sejahtera Tbk
RUPSGreen Power Group Tbk
RUPSPT Nusa Palapa Gemilang Tbk
RUPS Folago Global Nusantara Tbk
RUPS PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk.
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Transcoal Pacific Tbk.
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Trust Finance Indonesia Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Pratama Widya Tbk.
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Asuransi Dayin Mitra Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Caturkarda Depo Bangunan Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Saham Suparma Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Sinergi Inti Plastindo Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Radiant Utama Interinsco Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Leave a comment