Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) kembali mempertahankan suku bunga acuannya di 3,50-3,75%. Namun, isyarat kenaikan suku bunga semakin kencang.
The Fed mengumumkan suku bunga pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (30/7/2026) setelah menggelar pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari.
Seperti diketahui, The Fed pada 2025 menahan suku bunga hingga Agustus 2025 di level 4,25-4,50% sebelum memangkasnya pada September, Oktober, dan Desember 2025 menjadi 3,50-3,75%. Pada Januari – Juli 2026, The Fed menahan suku bunga acuan.
Keputusan untuk menahan suku bunga tidak diambil secara bulat tetapi dengan hasil 9 berbanding 3.
Tiga suara yang menolak keputusan tersebut berasal dari Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden The Fed Dallas Lorie Logan.
Perbedaan suara tersebut menjadi yang pertama sejak September 2016, ketika tiga anggota FOMC secara bersamaan mengambil posisi yang berbeda dari mayoritas terkait arah kebijakan suku bunga.
Munculnya tiga suara berbeda sekaligus menjadi ujian awal bagi Ketua The Fed Kevin Warsh.
Ketiganya selama ini dikenal sebagai pejabat yang paling vokal mendorong kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi yang telah berada di atas target 2% The Fed selama lebih dari lima tahun.
Dalam pernyataan resminya, The Fed menyebut ketiga pejabat tersebut menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 bps.
“Aktivitas ekonomi terus tumbuh dengan laju yang solid meskipun tingkat ketidakpastian masih tinggi, yang sebagian dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah. Inflasi masih berada di atas target 2% yang ditetapkan Komite, yang sebagian mencerminkan guncangan dari sisi pasokan (supply shocks) yang telah mendorong kenaikan harga di sejumlah sektor, termasuk energi. Komite menegaskan akan mewujudkan stabilitas harga,” tulis The Fed dalam pernyataan resminya.
Warsh Enggan Beri Sinyal
Sebelum rapat berlangsung, sejumlah pejabat The Fed telah menyampaikan pandangan yang lebih hawkish. Presiden The Fed Dallas Lorie Logan secara terbuka mengatakan suku bunga seharusnya berada pada level yang sedikit lebih tinggi.
Sementara itu, Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari, serta Gubernur The Fed Christopher Waller juga menyatakan dukungan terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat apabila inflasi tetap tinggi.
Dalam konferensi pers usai rapat, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa bank sentral tidak akan lagi memberikan petunjuk (forward guidance) mengenai arah kebijakan suku bunga. Namun, ia memastikan The Fed siap bertindak apabila diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke target 2%.
“Saya memahami keinginan agar komite ini memberikan proyeksi dan komentar mengenai arah kebijakan. Namun bagi kami, yang terpenting adalah mengamati bagaimana pasar bereaksi terhadap perkembangan yang terjadi secara langsung tanpa filter,” ujar Warsh, dikutip dari CNBC International.
Ia menambahkan bahwa keputusan FOMC memiliki dampak yang sangat besar terhadap perekonomian sehingga apabila diperlukan dan dinilai tepat, The Fed tidak akan ragu mengambil tindakan.
Pernyataan tersebut tidak banyak memberikan kepastian kepada pasar mengenai langkah berikutnya. Justru sebaliknya, investor kini semakin meyakini bahwa peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September semakin terbuka.
Menjelang rapat FOMC pekan ini, pasar menghadapi tingkat ketidakpastian yang tidak biasa mengenai arah kebijakan The Fed.
Penyebabnya bukan hanya prospek ekonomi yang dipenuhi sinyal saling bertentangan, tetapi juga berubahnya pola komunikasi bank sentral di bawah kepemimpinan Warsh.
Selama lebih dari dua dekade, pejabat The Fed, termasuk ketuanya, lazim memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan melalui pernyataan publik atau forward guidance.
Namun, pendekatan tersebut nyaris ditinggalkan sejak Warsh mulai memimpin bank sentral pada Mei lalu. Pernyataan resmi FOMC kini jauh lebih ringkas dan tidak lagi memberikan sinyal apakah kenaikan suku bunga akan segera dilakukan.
Minimnya petunjuk dari The Fed membuat pelaku pasar harus menafsirkan sendiri arah kebijakan bank sentral, di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.
Di sisi lain, data ekonomi memberikan gambaran yang saling bertolak belakang. Inflasi AS memang melandai tajam pada Juni, tetapi eskalasi konflik di Timur Tengah kembali mendorong kenaikan harga energi dunia.
Jika perang Iran terus berlanjut dan belum ada solusi permanen yang memulihkan jalur pelayaran di kawasan, gangguan terhadap pasokan energi global diperkirakan akan terus berlanjut.
Kondisi tersebut berpotensi memperluas tekanan inflasi ke sektor lain, mulai dari tarif penerbangan hingga biaya logistik.
Tak hanya itu, The Fed juga mulai mencermati dampak pesatnya adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terhadap dinamika inflasi dan produktivitas ekonomi dalam jangka menengah.
Warsh sendiri berpendapat bahwa The Fed seharusnya tidak lagi terlalu fokus memberi sinyal kepada pasar mengenai langkah kebijakan berikutnya. Sebaliknya, bank sentral lebih baik menjelaskan kondisi ekonomi yang akan menjadi dasar pengambilan keputusan.
Namun, pernyataan FOMC yang dirilis Rabu tidak memberikan keduanya. Dokumen tersebut juga tidak memberi petunjuk apakah kenaikan suku bunga akan dilakukan pada pertemuan September, meski pasar mulai mengantisipasi skenario tersebut.
Respon Pasar
Respons pasar langsung terlihat setelah pengumuman The Fed. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun melonjak menembus 5,2%, level tertinggi sejak 2007.
Sementara itu, yield obligasi tenor 10 tahun naik lebih dari 7 basis poin menjadi 4,677%, mencerminkan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat.
Di sisi lain, data inflasi terbaru sebenarnya sempat memberikan angin segar. Consumer Price Index (CPI) AS pada Juni secara tak terduga turun 0,4%, terutama karena penurunan harga bensin. Secara tahunan, inflasi juga melemah ke 3,5%.
Namun, kondisi tersebut mulai berubah dalam beberapa pekan terakhir setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas sehingga mendorong kenaikan harga energi.
“Situasi saat ini bukan lagi soal apakah suku bunga akan naik, tetapi kapan kenaikan itu terjadi,” kata Jason Granet, Chief Investment Officer BNY, dikutip dari CNN International.
Menurut Granet, berbagai indikator utama maupun laporan dari pelaku usaha menunjukkan tekanan inflasi mulai kembali meningkat. Hal ini memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini semakin menyempit.
Meski pasar secara umum memperkirakan The Fed akan kembali menahan suku bunga, sebagian pelaku pasar sempat melihat peluang sekitar 37% untuk kenaikan suku bunga secara mengejutkan, berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group. Namun, pasar prediksi tetap lebih yakin bahwa suku bunga akan dipertahankan.
Ptoyeksi kenaikan Foto: FedWatchtool
|
Trump Ingin Suku Bunga Lebih Rendah
Di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga, Presiden AS Donald Trump justru kembali mendesak agar biaya pinjaman diturunkan.
Trump mengatakan Warsh sebenarnya menginginkan suku bunga yang lebih rendah, namun terhalang oleh anggota FOMC lainnya.
“Kevin luar biasa, tetapi dia memiliki dewan. Saya tahu dia ingin melihat suku bunga lebih rendah, tetapi dia memiliki dewan yang bersifat politis dan mereka ingin mempertahankan suku bunga tetap tinggi,” kata Trump di Gedung Putih ketika ditanya mengenai keputusan The Fed yang kembali menahan suku bunga, dikutip dari CNN International.
FILE PHOTO: Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan pidato pada hari upacara pelantikannya, di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 22 Mei 2026. REUTERS/Evelyn Hockstein/File Photo Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein
|
Pernyataan Trump kembali menegaskan tekanan politik terhadap The Fed, meski bank sentral AS secara konsisten menegaskan bahwa setiap keputusan kebijakan moneter akan didasarkan pada perkembangan data ekonomi, khususnya inflasi dan pasar tenaga kerja.
Sikap Hawkish Makin Menguat
Menurut Kay Haigh, Global Head sekaligus Chief Investment Officer Fixed Income & Liquidity Solutions di Goldman Sachs Asset Management, The Fed mulai menunjukkan kesabaran yang semakin tipis terhadap inflasi yang masih berada di atas target.
“The Fed tampaknya mulai kehabisan kesabaran menghadapi inflasi yang masih berada di atas target, meskipun data inflasi terbaru menunjukkan perlambatan. Menguatnya sikap hawkish di dalam komite, yang tercermin dari tiga suara berbeda, kemungkinan juga dipicu kembali memanasnya konflik di Timur Tengah,” ujarnya.
Kelompok pejabat yang mendukung kebijakan lebih ketat menilai inflasi masih membebani rumah tangga AS dan belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda secara meyakinkan.
Tekanan harga juga dipengaruhi oleh tarif impor yang diberlakukan Presiden Donald Trump serta kenaikan harga energi akibat konflik Iran.
Dalam proyeksi ekonomi yang dirilis pada Juni, anggota FOMC masih memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 bps sebelum akhir 2026.
Gubernur The Fed Christopher Waller sebelumnya juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap inflasi dan menyebut kenaikan suku bunga mungkin diperlukan jika tekanan harga tidak kunjung mereda. Namun, dalam rapat kali ini ia tetap mendukung keputusan mempertahankan suku bunga.
Warsh sendiri berulang kali menyebut bahwa inflasi adalah sebuah pilihan, sembari menekankan pentingnya mengembalikan inflasi ke target dalam berbagai kesempatan, termasuk saat memberikan kesaksian di Kongres.
Menjelang rapat, pandangan para pejabat FOMC memang semakin beragam. Presiden The Fed New York John Williams menilai kebijakan saat ini sudah cukup tepat untuk membawa inflasi kembali ke target. Sebaliknya, Lorie Logan menilai suku bunga perlu dinaikkan secara moderat, sementara Beth Hammack terus mempertahankan sikap hawkish dengan menyoroti tekanan yang masih dirasakan rumah tangga akibat tingginya harga barang.
(mae/mae)
Add
as a preferred
source on Google


Leave a comment