Home Finance Taiwan Terburuk 25 Tahun-Rp44.000 T Lenyap di Korea
Finance

Taiwan Terburuk 25 Tahun-Rp44.000 T Lenyap di Korea

Share
Taiwan Terburuk 25 Tahun-Rp44.000 T Lenyap di Korea
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Asia rontok berjamaah pada perdagangan hari ini, Jumat (6/11/2026). Sejumlah indeks utama di kawasan terjun bebas, bahkan pasar saham Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan sempat anjlok lebih dari 7% sepanjang perdagangan.

Gejolak ini bermula dari Wall Street yang lebih dulu mengalami aksi sell off besar-besaran pada Kamis (5/11/2026), menyusul kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat (AS).

Kemenangan Demokrat memicu kekhawatiran investor terhadap potensi pengetatan regulasi kecerdasan buatan (AI) dan tertundanya pembangunan pusat data. Sentimen tersebut menghantam saham-saham teknologi AS sebelum akhirnya merambat ke pasar Asia, terutama negara-negara yang memiliki industri semikonduktor besar.

Menurut Dilin Wu, Research Strategist Pepperstone, aksi jual yang melanda pasar bahkan mulai memperlihatkan tanda-tanda kepanikan.

“Ada unsur kepanikan yang jelas dalam aksi jual ini. Posisi investasi yang terlalu ramai, pengurangan leverage, serta potensi likuidasi paksa turut memperparah penurunan,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Jumat (6/11/2026).

Baru Tiga Menit Dibuka, KOSPI Langsung Trading Halt

Korea Selatan menjadi salah satu pasar yang paling terpukul. Baru tiga menit setelah perdagangan dibuka, indeks KOSPI langsung anjlok lebih dari 8% hingga memicu penghentian sementara perdagangan (circuit breaker) selama 20 menit pada pukul 09.03 waktu setempat.

Tekanan jual membawa KOSPI turun hingga menyentuh 4.911,28, atau merosot 8,78%. Posisi tersebut menjadi level intraday terendah sejak 6 Februari 2026.

Saham-saham semikonduktor menjadi sasaran aksi jual. Samsung Electronics dan SK Hynix bahkan sempat merosot masing-masing lebih dari 10% dan 13% pada awal perdagangan.

Meski sempat terperosok di bawah level 5.000, KOSPI akhirnya berhasil memangkas sebagian kerugiannya dan ditutup melemah 6,02% ke posisi 5.059,69. Sementara itu, KOSDAQ turut turun 5,03% menjadi 644,27.

Namun, jika dilihat secara mingguan, tekanan yang dialami pasar Korea Selatan jauh lebih besar. KOSPI telah kehilangan lebih dari 10% nilainya sepanjang pekan ini.

Kejatuhan tersebut bahkan mendorong pemerintah Korea Selatan menggelar rapat darurat dan melonggarkan sementara aturan pembiayaan saham untuk mengurangi risiko likuidasi paksa di tengah anjloknya harga saham.

Hal ini memberikan angka penurunan yang sangat signifikan, sejak puncaknya pada 22 Juni 2026 di mana korea berada pada market cap sebesar KRW7.449,59 triliun.

Market cap harus turun ke KRW4.174,80 atau setara dengan US$ 2,41 triliun dan Rp 43.6982,23 triliun.



Nikkei Anjlok Hampir 6%, Pekan Terburuk Sejak Pandemi

Tekanan serupa juga menghantam pasar Jepang. Indeks Nikkei 225 ditutup anjlok 3.643,13 poin atau 5,96% ke posisi 57.434,77, mencatatkan penurunan harian terdalam sejak April 2025.

Sepanjang perdagangan, Nikkei bahkan sempat merosot 7,09% ke level 56.745,81 sebelum berhasil memangkas sebagian kerugiannya menjelang penutupan.

Saham-saham teknologi kembali menjadi pemberat utama. SoftBank Group terjun 10,8%, sementara produsen peralatan pengujian chip Advantest melemah 5%.

Namun, aksi jual ternyata tidak hanya terjadi pada saham teknologi. Dari 225 saham penghuni Nikkei, sebanyak 222 ditutup melemah dan hanya tiga yang berhasil menguat. Bahkan, seluruh 33 sektor dalam indeks TOPIX juga berakhir di zona merah.

Kejatuhan tersebut membuat Nikkei mengakhiri pekan dengan penurunan 9,3%, menjadi kinerja mingguan terburuk sejak Maret 2020, ketika pandemi Covid-19 mengguncang pasar keuangan global.

Bursa Taiwan Catat Pekan Terburuk Sejak 2001

Tak kalah terpukul, pasar saham Taiwan juga mengalami tekanan jual besar-besaran. Indeks TAIEX sempat kehilangan 3.737,67 poin hingga menyentuh 37.837,05, mencatatkan penurunan poin intraday terbesar sepanjang sejarah bursa Taiwan.

Saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), produsen chip kontrak terbesar dunia, bahkan sempat menyentuh batas penurunan harian atau limit down di NT$2.020.

Namun, tekanan mulai mereda menjelang akhir perdagangan. TAIEX akhirnya ditutup melemah 4,51% ke posisi 39.701,64, atau turun 1.873,08 poin dari penutupan sebelumnya.

TSMC juga berhasil keluar dari posisi limit down dan mengakhiri perdagangan di NT$2.135, melemah 4,69%.

Meski berhasil memangkas sebagian kerugiannya, bursa Taiwan tetap mencatatkan penurunan mingguan terdalam sejak September 2001 atau 25 tahun.

Indeks tersebut bahkan sudah kehilangan lebih dari 20% nilainya dibandingkan rekor tertinggi pada awal Oktober 2026.

Mayoritas Bursa Asia Berguguran

Tekanan jual juga melanda sejumlah pasar saham lainnya di Asia. Dari 13 indeks saham Asia dan kawasan Pasifik yang dipantau, sebanyak 12 bergerak di zona merah, sementara hanya satu indeks yang menguat.

Berikut pergerakan sejumlah indeks saham Asia dan kawasan Pasifik pada Jumat (6/11/2026) pukul 14.40 WIB:




Market Asia (06/11/2026) 15.20 WIB dari website CNBCMarket Asia (06/11/2026) 15.20 WIB dari website CNBC

 

(gls/gls)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *