
Jakarta, CNBC Indonesia – Sebuah tambang batu bara di Wales meledak usai bos abai perawatan dan mengabaikan keselamatan kerja. Akibatnya, 439 orang tewas dalam kejadian yang terjadi 113 tahun lalu.
Mengutip Museum of Wales, pada 14 Oktober 1913 pukul 08.10 pagi, sekitar 950 pekerja berada di tambang batu bara Universal Colliery, Senghenydd, Wales, untuk memulai sif harian. Tanpa mereka sadari, gas metana yang mudah terbakar sudah terakumulasi di bawah tanah. Gas ini tidak berbau sehingga keberadaannya sulit dikenali tanpa pemeriksaan khusus.
Sampai akhirnya, petaka pun terjadi ketika percikan api diduga menyulut gas metana hingga memicu ledakan dahsyat yang mengguncang jaringan terowongan tambang. Ledakan awal itu kemudian menyulut debu batu bara yang menumpuk di lorong-lorong, memperbesar daya rusak dan menyebarkan kehancuran ke bagian lain tambang.
Kondisi di bawah tanah lantas menjadi sangat berbahaya. Sebagian pekerja tewas akibat ledakan, sedangkan lainnya terjebak di tengah kebakaran dan gas beracun yang menghambat upaya penyelamatan.
“Itulah sebabnya ledakannya sangat dahsyat, ada begitu banyak debu, debu memicu pembakaran,” kata penyintas kecelakaan Noel Snailham kepada BBC International, dikutip Rabu (14/10/2026).
Upaya penyelamatan berlangsung selama beberapa hari karena kondisi tambang yang berbahaya. Pada akhirnya, 439 orang dinyatakan tewas. Korban tragedi tersebut mencakup banyak pekerja muda. Sebanyak 60 korban berusia di bawah 20 tahun, termasuk delapan orang yang baru berumur 14 tahun.
Mengutip Northern Mine Research Society, penyelidikan setelah bencana menyoroti persoalan keselamatan di tambang, termasuk dugaan percikan dari peralatan sinyal listrik sebagai pemicu awal ledakan. Gas metana yang terakumulasi kemudian tersulut, sementara debu batu bara memperbesar daya rusaknya. Tim juga mengungkap ternyata pemilik tidak membuat ventilasi dengan sangat baik.
Tragedi ini semakin memilukan karena Universal Colliery pernah mengalami ledakan pada 24 Mei 1901 yang menewaskan 81 pekerja. Namun, 12 tahun kemudian, bencana kembali terjadi dengan jumlah korban jauh lebih besar. Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan mengenai penerapan aturan keselamatan dan tanggung jawab pengelola dalam mencegah kejadian serupa.
Setelah bencana, manajer tambang Edward Shaw menghadapi 17 dakwaan, sedangkan perusahaan pemiliknya, Lewis Merthyr Coal Company, menghadapi empat dakwaan. Pada Mei 1914, Shaw dinyatakan bersalah atas delapan dakwaan dan didenda total £24. Perusahaan itu kemudian didenda £10 atas satu pelanggaran. Kedua denda ini setara ratusan ribu rupiah pada masa sekarang.
Hukuman tersebut menuai kekecewaan karena dinilai tidak sebanding dengan besarnya tragedi yang merenggut ratusan nyawa. Apalagi setelahnya tambang masih beroperasi dengan pengelola sampai ditutup total pada 1928.
(mfa/luc)
Leave a comment