
Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Indonesia (BI) tengah gencar melakukan intervensi di pasar keuangan, di tengah kondisi tertekannya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini, Jumat (16/10/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,33% ke posisi Rp17.980/US$ pada perdagangan Jumat (16/10/2026).
Hanya berselang dua menit, tepatnya pada pukul 09.02 WIB, pelemahan rupiah semakin dalam menjadi 0,45% hingga menyentuh Rp18.000/US$.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya melalui intervensi yang terus dilakukan.
“Dan memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik. Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” kata Erwin hari ini.
Erwin menjelaskan, tekanan terhadap kurs rupiah pada hari ini terjadi di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan dolar AS dan menekan pasar keuangan domestik.
Menurut Erwin, kondisi ini akan menyebabkan arus keluar dana dari aset portofolio domestik masih akan berlanjut.
“Secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan pelemahan terbatas sebesar 0,28% secara quarter-to-date (QTD),” tegasnya.
Kendati begitu, Erwin memastikan, di tengah kondisi tekanan ini, kekuatan eksternal Indonesia yang terlihat dari cadangan devisa tetap terjaga sebesar USD146,3 miliar pada akhir September 2026.
“Bank Indonesia juga menjaga kecukupan likuiditas dan mengelola struktur suku bunga di pasar uang, serta terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya,” paparnya.
(arj/arj)
Leave a comment