Jakarta, CNBC Indonesia – Media sosial Threads belakangan diramaikan tren “Life After Breakup“. Banyak pengguna membagikan rutinitas baru usai putus cinta, mulai dari olahraga di gym, ikut kelas pilates atau yoga, lari pagi, solo date, belajar hal baru, hingga fokus pada self-care dan healing.
Sekilas, aktivitas tersebut tampak seperti cara mengalihkan perhatian dari mantan. Namun, menurut pakar pengembangan diri Mel Robbins dalam episode The Mel Robbins Podcast bersama putrinya, Sawyer Robbins, kebiasaan menyibukkan diri setelah putus cinta ternyata memiliki dasar ilmiah.
Mel menjelaskan, putus cinta bukan sekadar persoalan emosional, tetapi juga proses biologis yang mempengaruhi otak, sistem saraf, hingga hormon dalam tubuh. Saat seseorang menjalin hubungan, otak dan sistem saraf membentuk pola keterikatan dengan pasangan. Ketika hubungan berakhir, tubuh mengalami kondisi yang mirip dengan gejala putus zat adiktif atau withdrawal.
“Itulah mengapa Anda terus memikirkan mereka, ingin menghubungi mereka, atau merasa sangat kehilangan. Otak sedang berusaha beradaptasi dengan perubahan besar,” jelas Mel dikutip dari podcast di YouTube @melrobbins.
Lantas, bagaimana cara membantu tubuh dan pikiran pulih setelah putus cinta? Berikut beberapa langkah yang dibagikan Mel Robbins.
1. Sadari bahwa putus cinta juga proses biologis
Mel menjelaskan rasa sakit setelah putus cinta bukan berarti seseorang lemah. Tubuh memang sedang mengalami perubahan neurologis, fisiologis, dan kimiawi karena kehilangan sosok yang selama ini menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
Memahami hal tersebut dapat membantu seseorang lebih berbelas kasih kepada diri sendiri selama proses pemulihan.
2. Terapkan aturan “No Contact” selama 30 hari
Salah satu langkah yang paling disarankan adalah menghentikan semua bentuk komunikasi dengan mantan selama 30 hari.
Bukan hanya berhenti mengirim pesan, tetapi juga menghindari melihat unggahan media sosial, foto lama, atau mencari tahu aktivitas mereka.
Menurut Mel, suara, foto, maupun unggahan mantan merupakan pemicu kuat yang dapat mengaktifkan kembali jalur saraf lama sehingga proses move on menjadi lebih lama.
3. Beri waktu sekitar 11 minggu
Mel mengutip hasil penelitian yang menunjukkan sekitar 71% orang mulai merasa jauh lebih baik setelah 11 minggu atau hampir tiga bulan.
Mengetahui bahwa proses ini membutuhkan waktu dapat membantu seseorang lebih realistis dan tidak menyalahkan diri sendiri karena belum bisa cepat move on.
4. Ubah suasana kamar atau lingkungan
Lingkungan juga berpengaruh terhadap proses pemulihan.
Mel menyarankan melakukan perubahan sederhana, seperti memindahkan posisi tempat tidur, mengganti sprei, mengecat ulang kamar, atau menyimpan barang-barang pemberian mantan di tempat yang tidak mudah terlihat.
Perubahan kecil tersebut membantu otak membangun asosiasi baru dan menandai dimulainya fase kehidupan yang berbeda.
5. Berhenti berusaha mengontrol mantan
Mel juga mengingatkan pentingnya menerapkan prinsip Let Them atau “biarkan saja”.
Jika mantan sudah memiliki pasangan baru, terlihat bahagia, atau tidak pernah menghubungi lagi, seseorang tidak perlu terus-menerus menganalisis atau berusaha mengendalikan keadaan tersebut.
Semakin seseorang mencoba mengontrol tindakan orang lain, semakin sulit pula dirinya melepaskan hubungan yang telah berakhir.
6. Sibukkan diri, tetapi bukan sebagai pelarian
Fenomena “Life After Breakup” yang ramai di Threads, seperti rutin ke gym, ikut kelas pilates, yoga, lari, atau mencoba hobi baru, menurut Mel memang dapat membantu proses pemulihan jika dilakukan dengan tujuan yang tepat.
Aktivitas tersebut sebaiknya menjadi cara membangun kehidupan baru, bukan sekadar upaya membuat mantan menyesal atau membuktikan sesuatu.
Mel menyarankan mengisi kalender dengan kegiatan yang bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental, seperti berolahraga, belajar bahasa asing, mengikuti kursus, bertemu teman, atau mencoba pengalaman baru yang sebelumnya belum sempat dilakukan.
Dengan rutinitas baru, otak perlahan membentuk pola kehidupan yang tidak lagi bergantung pada hubungan yang telah berakhir. Mel mengajak orang yang sedang patah hati untuk mengubah cara pandang.
Daripada terus bertanya, “Bagaimana jika aku tidak menemukan orang yang lebih baik?”, ia menyarankan menggantinya menjadi, “Bagaimana jika perpisahan ini justru membawaku menuju kehidupan yang lebih baik?”
Menurutnya, masa setelah putus cinta bukan hanya tentang kehilangan seseorang, tetapi juga kesempatan untuk kembali mengenal diri sendiri dan membangun kehidupan yang lebih sehat, baik secara fisik maupun mental.
(hsy/hsy)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment