
Jakarta, CNBC Indonesia – Insiden penipuan yang berbuntut kerugian finansial sudah mencapai taraf mengkhawatirkan. Raksasa jaringan pembayaran global, Visa, mengungkapkan jumlah kerugian ekonomi global mencapai US$1 triliun (Rp18.000 triliun) setiap tahun gara-gara aksi penipuan yang kian canggih.
“Pengambilalihan akun dan penipuan merugikan ekonomi global lebih dari US$1 triliun setiap tahunnya, dan AI telah memungkinkan serangan-serangan ini terjadi dalam skala yang belum pernah ada sebelumnya,” kata Andrew Torre, President of Value-Added Services di Visa, dikutip dari Reuters, Selasa (4/8/2028).
Untuk memperkuat sistem pertahanan sibernya, Visa mengumumkan pada Senin (2/8) bahwa mereka akan mengakuisisi penyedia jasa intelijen penipuan (fraud intelligence), BioCatch, senilai US$2,4 miliar (sekitar Rp43 triliun) secara tunai.
“BioCatch akan membantu klien kami menghentikan penipuan sebelum mencapai tahap pembayaran,” Torre menuturkan.
Lebih lengkap, Visa mengatakan kesepakatan ini akan membantu perusahaan memperkuat portofolio layanan siber, penanganan penipuan, manajemen risiko, dan keamanannya. Selain itu, akuisisi ini memungkinkan Visa membantu para klien melindungi diri mereka dengan lebih baik di tengah lingkungan ancaman yang makin kompleks.
Didirikan pada 2011, BioCatch membantu mendeteksi penipuan dan membedakan pengguna sah dari pelaku kejahatan secara real-time. Proses ini dilakukan dengan menganalisis sinyal-sinyal perilaku, seperti pola ketikan tombol (keystrokes), gestur sentuhan layar, hingga cara pengguna menggenggam perangkat demi mengamankan transaksi.
Perusahaan tersebut saat ini melayani lebih dari 350 klien perbankan di 21 negara, serta memberikan perlindungan kepada 1,8 miliar perangkat dan 760 juta pengguna di seluruh dunia.
“Kami yakin para investor akan menyambut baik kabar ini. Apalagi diskusi mengenai perlunya solusi penipuan yang lebih canggih untuk melindungi pembayaran di era AI makin meningkat,” kata analis dari Evercore, Adam Frisch.
Perusahaan ekuitas swasta Permira pertama kali berinvestasi di BioCatch pada 2023, lalu mengambil alih saham mayoritas pada 2024 dengan nilai valuasi US$1,3 miliar. Di bawah kepemilikan Permira, pendapatan dan laba kotor BioCatch melonjak hingga hampir tiga kali lipat.
Dalam beberapa tahun terakhir, para raksasa kartu pembayaran makin aktif melakukan akuisisi untuk memperkuat lini pencegahan penipuan mereka.
Mastercard merampungkan akuisisi perusahaan intelijen ancaman siber, Recorded Future, senilai US$2,65 miliar pada 2024. Di tahun yang sama, Visa juga mengusung akuisisi terhadap perusahaan perlindungan pembayaran, Featurespace.
Selama lima tahun terakhir, Visa telah mengucurkan investasi lebih dari US$13 miliar dalam bidang teknologi dan infrastruktur untuk membasmi para pelaku penipuan siber.
Proses akuisisi BioCatch ini diperkirakan akan rampung pada akhir kuartal kedua fiskal Visa tahun 2027.
(fab/fab)
Leave a comment