
Jakarta, CNBC Indonesia – PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) berencana melakukan pembelian kembali (buyback) senilai maksimal Rp400 miliar. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham sekaligus mendukung upaya pemerintah menjaga stabilitas dan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.
Mengutip keterbukaan informasi BUrsa Efek Indonesia (BE), karena menggunakan skema kondisi pasar berfluktuasi, perusahaan dapat melakukan buyback tanpa persetujuan RUPS, dengan tetap mengikuti batasan yang berlaku.
“Pembelian kembali saham diharapkan dapat menstabilkan harga saham dalam kondisi pasar yang fluktuatif, selain memberikan keyakinan kepada investor atas nilai saham Perseroan secara fundamental,” tulis manajemen, dikutip Jumat (2/10/2026).
Adapun aksi korporasi tersebut juga memberikan fleksibilitas bagi AALI dalam mengelola modal jangka panjang dimana saham treasuri dapat dijual di masa yang akan datang dengan nilai yang optimal jika perseroan memerlukan penambahan modal.
Perseroan menyatakan seluruh dana berasal dari kas internal, bukan pinjaman atau hasil penawaran umum. Nilai Rp400 miliar itu belum termasuk biaya perantara pedagang efek dan biaya terkait lainnya.
Pelaksanaan buyback dijadwalkan mulai 2 Oktober 2026 hingga 28 Desember 2026, sesuai ketentuan bahwa buyback hanya dapat dilakukan paling lama tiga bulan setelah keterbukaan informasi.
Perseroan dapat menghentikannya lebih awal jika periode berakhir, dana yang dikeluarkan sudah mencapai Rp400 miliar, atau perseroan memutuskan menghentikannya. Apabila dana belum terserap penuh, perseroan juga dapat memulai buyback baru setelah periode ini berakhir sesuai peraturan yang berlaku.
Dari sisi keuangan, kinerja keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026 menunjukkan dampak yang relatif kecil. Laba bersih periode berjalan tetap Rp1,1 triliun. Total aset turun Rp0,4 triliun dari Rp28,9 triliun menjadi Rp28,5 triliun, dan total ekuitas turun dalam jumlah yang sama dari Rp24,6 triliun menjadi Rp24,2 triliun. Laba bersih per saham justru naik tipis dari Rp571 menjadi Rp575 karena jumlah saham beredar berkurang.
Perseroan menegaskan tidak ada perubahan signifikan pada indikator keuangannya dan meyakini modal serta arus kasnya cukup untuk membiayai buyback, kegiatan usaha, dan rencana pengembangan.
(rob/rob)
Leave a comment