Home Finance Pasar Migas yang Semakin Selektif di Tahun 2026
Finance

Pasar Migas yang Semakin Selektif di Tahun 2026

Share
Pasar Migas yang Semakin Selektif di Tahun 2026
Share




Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Meski dunia kini bergerak menuju energi bersih, minyak dan gas (migas) masih menjadi primadona terbukti dari permintaan keduanya tetap tumbuh, bahkan diperkirakan tetap akan naik pada tahun-tahun mendatang.

Dari sisi minyak, pertumbuhan permintaan global diperkirakan mencapai 770 ribu barel per hari pada tahun 2025 dan naik menjadi 850 ribu barel per hari pada tahun 2026 dengan total permintaan dunia diperkirakan mencapai 105 juta barel per hari.

Pertumbuhannya tidak lagi datang dari transportasi semata, melainkan bergeser ke petrokimia dan pasar Asia. Harga minyak sendiri sangat sensitif terhadap
geopolitik sehingga ini membuat perlu adanya perencanaan jangka panjang yang lebih matang dari yang sudah ada.

Gas dan LNG Memasuki Fase Baru
Gas dan LNG berada di jalur yang berbeda dimana pertumbuhan permintaan gas global pada tahun 2024 mencapai 2,8 bcf per hari. Pada tahun 2025, melambat menjadi 1,3 bcf per hari sebelum diperkirakan kembali naik ke 2,0 bcf per hari pada tahun 2026 dengan total permintaan gas dunia mencapai 400 hingga 413 bcf per
hari.

Perlambatan pada tahun 2025 disebabkan harga LNG spot yang relatif tinggi dan ekonomi Asia yang melemah. Memasuki tahun 2026, pasar diperkirakan membaik seiring pasokan LNG yang tumbuh lebih cepat dan pasar Asia menjadi lebih sensitif terhadap harga. Adapun LNG yang diperdagangkan pada tahun 2025 mencapai 56,3 bcf per hari.

Yang menarik, LNG semakin menghubungkan harga antar kawasan sehingga volatilitas regional tidak lagi berdiri sendiri. Apa yang terjadi di satu pasar akan cepat terasa di pasar lain. Bagi pelaku industri, ini berarti portofolio gas, LNG, dan infrastruktur menjadi semakin strategis.

Yang Membedakan Pemenang dan Yang Tertinggal
Pasar kini tidak hanya menilai volume melainkan menilai pula cost position, reliability, access to market, dan speed of execution dan empat hal ini yang kini membedakan pemenang dan yang tertinggal.

Di sisi hilir, permainan tidak lagi hanya perihal berapa banyak yang bisa diproduksi melainkan yang lebih menentukan ialah seberapa efisien kilang beroperasi dan seberapa tinggi utilisasi asetnya. Dari situ, faktor seperti logistik, penyimpanan, dan jangkauan distribusi ikut menentukan daya saing.

Menariknya, nilai tambah yang lebih besar justru datang dari integrasi dengan petrokimia, bukan dari produk bahan bakar semata. Sementara itu, kualitas produk dan kepatuhan terhadap regulasi menjadi syarat yang tidak bisa ditawar, karena pasar semakin selektif dalam menilai.

Hal serupa berlaku di sisi layanan yang mana kemampuan eksekusi lokal, keandalan di segmen niche, digitalisasi, dan disiplin kas menjadi pembeda utama. Perusahaan jasa yang mampu membuktikan kemampuannya akan mendapat tempat, sementara yang hanya mengandalkan harga murah perlahan akan tersingkir.

Di tengah harga yang fluktuatif, kemampuan menjaga kontrak tetap fleksibel, melakukan hedging, dan membaca pasar dengan baik menjadi keunggulan tersendiri. Teknologi pun akhirnya hanya bernilai jika dipakai untuk menjaga margin, bukan sekadar untuk gaya-gayaan.

(miq/miq)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *