
Jakarta, CNBC Indonesia – Impian manusia untuk memahami bahasa hewan yang telah berlangsung selama ribuan tahun kini mulai mendekati kenyataan. Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) memungkinkan para ilmuwan untuk menganalisis pola komunikasi hewan dalam skala yang sebelumnya sangat sulit dilakukan.
Dalam berbagai kisah, Nabi Sulaiman dikenal memiliki mukjizat dan kebijaksanaan untuk dapat berbicara serta memahami bahasa hewan. Kini, teknologi AI mulai membantu manusia memahami komunikasi antarspesies dengan menganalisis jutaan data suara, perilaku, hingga lingkungan tempat tinggal hewan.
Salah satu terobosan penting datang dari Earth Species Project (ESP) melalui NatureLM-audio, yaitu sebuah model AI yang dirancang khusus untuk mempelajari struktur dan pola komunikasi dari rekaman suara hewan.
Teknologi dari ESP sebelumnya juga telah digunakan untuk mengidentifikasi suara paus beluga, serta mempelajari perilaku orangutan, gajah, hingga laba-laba. Sejumlah riset terpisah bahkan telah menunjukkan kemampuan luar biasa AI dalam menemukan pola komunikasi tersembunyi yang sebelumnya luput dari pengamatan manusia.
Para peneliti di Spanyol, misalnya, menggunakan AI untuk menganalisis lebih dari 127.000 suara burung gagak. Sementara itu, model ZF-AIM yang dilatih menggunakan 1,5 juta suara burung zebra finch terbukti mampu menghasilkan interaksi vokal secara spontan dengan burung tersebut, demikian dikutip dari YnetGlobal, Kamis (24/9/2026).
Teknologi serupa juga dimanfaatkan oleh Project CETI untuk mempelajari sistem komunikasi paus sperma melalui rangkaian bunyi klik yang disebut codas. Analisis mendalam berbasis AI tersebut berhasil menemukan pola komunikasi kompleks yang ternyata memiliki kemiripan tertentu dengan struktur fonetik bahasa manusia.
Meskipun demikian, para ahli menegaskan bahwa AI belum bisa menerjemahkan bahasa hewan secara harfiah seperti manusia menerjemahkan bahasa asing. Teknologi ini lebih tepat diposisikan sebagai alat bantu untuk menemukan pola dan merumuskan hipotesis mengenai makna suatu suara berdasarkan kombinasi vokal, perilaku, serta konteks lingkungannya.
Ynet News juga mengutip peringatan dari sejumlah ilmuwan bahwa analisis suara semata belumlah cukup. Penelitian yang dipimpin oleh para ahli dari Universitas Tel Aviv menunjukkan bahwa pemahaman yang utuh terhadap komunikasi hewan juga harus didukung oleh pengamatan perilaku secara langsung dan, dalam beberapa kasus, pemantauan aktivitas otak.
Selain itu, para ilmuwan turut memperingatkan adanya potensi risiko di balik penggunaan AI untuk “berbicara” langsung dengan hewan. Menghasilkan suara tiruan yang menyerupai komunikasi alami tanpa memahami konteksnya justru berisiko memicu kebingungan, kecemasan, hingga mengganggu tatanan ekosistem alami mereka.
(fab/fab)
Leave a comment