Home Finance Banyak Pasangan Pilih Bercerai, Ternyata Alasannya Tak Terduga
Finance

Banyak Pasangan Pilih Bercerai, Ternyata Alasannya Tak Terduga

Share
Banyak Pasangan Pilih Bercerai, Ternyata Alasannya Tak Terduga
Share



Daftar Isi



Jakarta, CNBC Indonesia – Perceraian hampir selalu memiliki cerita yang kompleks. Namun, sejumlah penelitian selama beberapa dekade menunjukkan bahwa alasan yang dikemukakan pasangan ketika mengakhiri pernikahan ternyata memiliki pola yang relatif serupa.

Berbagai penelitian yang menggunakan metode, kelompok responden, dan periode berbeda menemukan sejumlah tema utama, mulai dari perselingkuhan dan kurangnya komitmen hingga konflik, ketidakcocokan, penyalahgunaan zat, serta semakin jauhnya hubungan pasangan.

Kurangnya Komitmen hingga Perselingkuhan

Dalam penelitian Paul Amato dan Denise Previti pada 2003, yang menggunakan data dari proyek Marital Instability Over the Life Course, orang-orang yang telah bercerai diminta menjelaskan penyebab perceraian mereka.

Dari jawaban terbuka para responden, sejumlah alasan yang paling sering muncul adalah perselingkuhan, ketidakcocokan, konsumsi alkohol atau penggunaan narkoba, serta hubungan yang semakin menjauh.

Temuan serupa terlihat dalam survei berskala besar yang dilakukan pada 2001 terhadap lebih dari 2.000 orang di Oklahoma. Responden yang pernah bercerai diminta memilih alasan utama perceraian mereka.

Tiga alasan teratas adalah kurangnya komitmen, terlalu banyak konflik atau pertengkaran, serta perselingkuhan atau hubungan di luar pernikahan. Setelah itu muncul alasan seperti menikah terlalu muda, kurangnya persiapan pranikah, serta masalah keuangan.

Menikah pada usia terlalu muda juga dapat berkaitan dengan persoalan ketidakcocokan. Penelitian Amato dan Previti menemukan bahwa ketidakcocokan lebih sering disebut sebagai alasan perceraian oleh orang yang menikah pada usia muda.

Mantan Pasangan Lebih Sering Disalahkan

Menariknya, penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang bercerai cenderung menilai mantan pasangannya sebagai pihak yang lebih bertanggung jawab atas berakhirnya pernikahan.

Amato dan Previti menemukan bahwa 33 persen responden menyalahkan mantan pasangan, sedangkan hanya sekitar 5 persen yang menyalahkan diri sendiri.

Temuan dalam survei Oklahoma menunjukkan kecenderungan serupa. Sebanyak 73 persen responden merasa telah berupaya cukup keras mempertahankan pernikahan, sementara 74 persen menilai mantan pasangan mereka seharusnya berusaha lebih keras.

Dengan demikian, selain persoalan objektif dalam rumah tangga, persepsi mengenai siapa yang dianggap gagal mempertahankan hubungan juga menjadi bagian penting dalam pengalaman perceraian.

Alasan Perceraian Berbeda dengan Pemicu Terakhir

Penelitian Shelby Scott, Galena Rhoades, Scott Stanley, Elizabeth Allen, dan Howard Markman yang diterbitkan pada 2013 memberikan gambaran lain.

Para peneliti tidak hanya menanyakan alasan utama perceraian kepada responden, tetapi juga menanyakan “pemicu terakhir”, yakni peristiwa atau kondisi yang akhirnya membuat seseorang mengambil keputusan untuk mengakhiri pernikahan.

Alasan perceraian yang paling sering disebut adalah:

– kurangnya komitmen;

– perselingkuhan;

– konflik atau pertengkaran.

Sementara itu, pemicu terakhir yang paling umum adalah perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, dan penyalahgunaan zat.

Pembedaan tersebut penting. Masalah yang membuat sebuah pernikahan memburuk selama bertahun-tahun belum tentu sama dengan peristiwa yang akhirnya membuat salah satu pasangan memutuskan untuk pergi.

Kekerasan Lebih Sering Disebut Perempuan

Sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya perbedaan berdasarkan jenis kelamin, khususnya dalam laporan mengenai kekerasan.

Dalam penelitian yang dilakukan Johnson dan rekan-rekannya, alasan yang dikemukakan pria dan wanita pada umumnya serupa. Namun, perempuan jauh lebih sering menyebut kekerasan dalam rumah tangga sebagai alasan utama perpisahan.

Sebanyak 44 persen perempuan, dibandingkan 8 persen laki-laki, menyebut kekerasan dalam rumah tangga sebagai alasan utama berakhirnya hubungan.

Perempuan juga cenderung lebih sering menyatakan keinginan untuk berpisah. Temuan ini muncul dalam penelitian Amato dan Previti serta sejumlah penelitian lainnya.

Pada Usia Lebih Tua, Alasannya Tak Jauh Berbeda

Perceraian pada usia paruh baya dan lebih tua juga menunjukkan pola yang serupa.

Laporan AARP pada 2004, berdasarkan survei nasional terhadap orang dewasa berusia 40 tahun ke atas, menemukan sejumlah alasan utama perceraian, yaitu perlakuan kasar secara verbal, fisik, maupun emosional; perbedaan nilai dan gaya hidup; serta perselingkuhan.

Alasan lain yang cukup banyak muncul adalah hilangnya rasa cinta atau perasaan bahwa hubungan berakhir tanpa satu persoalan yang dapat diidentifikasi secara jelas.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa bertambahnya usia tidak serta-merta mengubah pola utama persoalan yang dapat mengakhiri pernikahan.

Ketika Pasangan Berhenti Berkomunikasi

Penelitian Alan Hawkins, Brian Willoughby, dan William Doherty pada 2012 memberikan perspektif berbeda karena responden diwawancarai ketika masih berada dalam proses perceraian, bukan bertahun-tahun setelah perceraian berlangsung.

Penelitian tersebut melibatkan 886 orang tua yang sedang menjalani proses perceraian di Hennepin County, Minnesota.

Dua alasan yang paling sering dikemukakan adalah hubungan yang semakin menjauh dan ketidakmampuan pasangan untuk berkomunikasi.

Menariknya, orang yang paling kecil kemungkinannya untuk mempertimbangkan pembatalan perceraian adalah mereka yang menyebut semakin jauhnya hubungan, perbedaan selera, dan masalah keuangan sebagai alasan perceraian.

Sementara itu, kekerasan dan perselingkuhan tidak ditemukan memiliki hubungan yang sama dengan tingkat ketertarikan seseorang untuk mempertimbangkan rujuk.

Apakah Perbedaan Keinginan Memiliki Anak Menjadi Alasan Baru?

Di luar penelitian formal tersebut, muncul pula dugaan bahwa perbedaan keinginan untuk memiliki anak semakin menjadi sumber konflik dalam pernikahan modern.

Perubahan sosial membuat memiliki anak tidak lagi selalu dianggap sebagai konsekuensi otomatis dari pernikahan. Pasangan kini lebih sering harus mendiskusikan apakah mereka ingin memiliki anak, kapan, dan berapa jumlahnya.

Karena itu, perbedaan pandangan mengenai keluarga dapat menjadi bentuk ketidakcocokan yang lebih spesifik.

Namun, penting dicatat bahwa dugaan mengenai konflik terkait keinginan memiliki anak sebagai penyebab utama perceraian masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Belum cukup bukti untuk menyamakannya dengan faktor-faktor seperti perselingkuhan, konflik, kurangnya komitmen, atau kekerasan yang telah berulang kali ditemukan dalam penelitian.

Pernikahan Membutuhkan Upaya dari Kedua Pihak

Meskipun setiap perceraian memiliki kisah dan konteks masing-masing, penelitian dari berbagai periode memperlihatkan pola yang cukup konsisten.

Kurangnya komitmen, perselingkuhan, konflik berkepanjangan, ketidakcocokan, hubungan yang semakin menjauh, masalah komunikasi, penyalahgunaan zat, serta kekerasan merupakan tema yang berulang dalam berbagai penelitian.

Namun, ada satu pelajaran penting dari temuan tersebut: alasan memburuknya sebuah pernikahan tidak selalu sama dengan peristiwa terakhir yang menyebabkan perceraian.

Sebuah hubungan dapat mengalami masalah selama bertahun-tahun sebelum akhirnya berakhir karena satu peristiwa yang menjadi titik balik.

Pada akhirnya, mempertahankan pernikahan bukan tanggung jawab satu orang. Hubungan membutuhkan keterlibatan kedua pasangan. Ketika keduanya bersedia berinvestasi, berkomunikasi, memperbaiki kesalahan, dan bertumbuh bersama, peluang untuk mempertahankan hubungan menjadi lebih besar.

Sebaliknya, ketika salah satu pihak merasa terus-menerus berjuang sendirian, berbagai masalah yang semula dapat diperbaiki berpotensi berkembang menjadi alasan untuk mengakhiri pernikahan.

Berbagai penelitian tersebut menunjukkan bahwa perceraian jarang disebabkan oleh satu persoalan sederhana. Di balik keputusan untuk berpisah biasanya terdapat rangkaian masalah, pilihan, konflik, dan pengalaman yang akhirnya membawa pasangan pada titik di mana hubungan tidak lagi dapat dipertahankan.

(lih/wur)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *