
Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyoroti pesatnya pembangunan pusat data atau data center di Indonesia.
Meski menjadi peluang bisnis yang besar, dia mempertanyakan seberapa besar kapasitas data center tersebut yang benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan dan kebutuhan dalam negeri.
Sekretaris Jenderal Kementerian Komdigi, Ismail, mengingatkan, Indonesia jangan sampai hanya menjadi penyedia infrastruktur data center, sedangkan pemanfaatan data dan informasi di dalamnya justru lebih banyak menguntungkan negara lain.
Hal tersebut disampaikan Ismail dalam acara CNBC Indonesia Coffee Morning di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
“Saya kalau boleh sedikit juga menyinggung tentang hpye-nya data center di Indonesia sekarang, di satu sisi bagus ya, ini opportunity bisnis yang luar biasa,” ujar Ismail.
Dia kemudian menyoroti proyeksi peningkatan kapasitas data center Indonesia, dari 500 MB menjadi 3 GB pada 2030. Namun, menurutnya, peningkatan kapasitas tersebut perlu diikuti dengan pemanfaatan yang lebih besar oleh pelaku industri dan ekosistem digital di dalam negeri.
“Tapi kalau kita bertanya tadi 500 MB kemudian 2030 menjadi 3 GB, berapa yang digunakan dan dimanfaatkan oleh Indonesia sendiri?” katanya.
Ismail khawatir pembangunan data center secara masif justru hanya membuka peluang bagi negara lain untuk memanfaatkan infrastruktur yang disiapkan Indonesia. Sementara itu, porsi keuntungan yang dinikmati Indonesia belum tentu sebanding dengan besarnya investasi dan sumber daya yang digunakan.
“Jangan-jangan ini seluruh data kapasitas data center yang Indonesia siapkan ini hanya membuat karpet merah untuk dimanfaatkan oleh negara lain,” ungkapnya.
Menurut Ismail, keuntungan dari bisnis data center tidak seharusnya hanya dilihat dari pembangunan fasilitas dan operasional perusahaan penyedia infrastruktur. Nilai yang lebih besar justru muncul ketika data dan informasi dapat diolah menjadi kegiatan produktif yang menghasilkan nilai tambah.
“Yang besar kayak itu adalah ketika kita bisa utilize data dan informasi itu menjadi sesuatu yang bersifat produktif. Nah, berapa persen dari data center yang disiapkan di Indonesia itu yang bisa menambah meningkatkan nilai tambah?,” ujarnya. “Ini pertanyaan lanjutan yang perlu kita sama-sama renungkan, jangan sampai sumber daya kita semua sudah terpakai, listrik, air, dan sebagainya, tapi itu untuk karpet merah buat negara lain.”
(dem/dem)
Leave a comment