Home Finance Fenomena Downgrade Lifestyle, Benarkah Warga RI Pilih-Pilih Belanja?
Finance

Fenomena Downgrade Lifestyle, Benarkah Warga RI Pilih-Pilih Belanja?

Share
Fenomena Downgrade Lifestyle, Benarkah Warga RI Pilih-Pilih Belanja?
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Fenomena downgrade lifestyle yakni menurunkan standar gaya hidup sedang ramai menjadi perbincangan di media sosial. Semakin banyak orang yang membicarakan cara menghemat pengeluaran mereka, mulai dari mengurangi kebiasaan nongkrong, memilih barang yang lebih murah, hingga menunda pembelian yang dianggap tidak terlalu penting. 

Bagi sebagian orang, perubahan ini menjadi pilihan agar kondisi keuangan tetap terjaga.

Namun, bagi sebagian lainnya, langkah tersebut dilakukan karena harus menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan dan kebutuhan hidup yang terus bertambah.

Istilah downgrade lifestyle sendiri menggambarkan perubahan kebiasaan seseorang menuju gaya hidup yang lebih sederhana atau lebih terjangkau dibandingkan sebelumnya.

Misalnya, seseorang yang biasanya membeli kopi di kafe mulai beralih ke pilihan yang lebih murah. Ada pula yang memilih menggunakan kendaraan lebih ekonomis, mengurangi frekuensi liburan, atau menunda membeli handphone baru karena perangkat lama masih bisa digunakan.

Fenomena ini turut dibahas dalam tulisan opini di laman Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada 12 Oktober 2026. Dalam tulisan tersebut, downgrade lifestyle disebut semakin populer di media sosial, seiring munculnya berbagai cerita masyarakat yang mulai menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan keuangannya.

Salah satu gambaran menarik dapat dilihat dalam laporan Mandiri Spending Index (MSI) yang diterbitkan oleh Bank Mandiri melalui Office of Chief Economist.

Laporan berdasarkan data hingga 13 September 2026 tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas belanja masyarakat masih tumbuh, tetapi mulai menunjukkan perlambatan. Di saat yang sama, porsi pengeluaran untuk sejumlah kebutuhan juga mengalami perubahan.




Mandiri Spending Index, WeeklyMandiri Spending Index, Weekly Foto: Mandiri Institute

Belanja Masyarakat Masih Tumbuh, tetapi Mulai Melambat

Berdasarkan laporan Mandiri, indeks belanja masyarakat berada di level 123,5 pada pekan kedua September 2026, sedikit turun dari 123,6 pada pekan sebelumnya.

Secara mingguan, indeks belanja melemah 0,05%. Penurunan tersebut telah berlangsung selama empat pekan berturut-turut.

Meski demikian, belanja masyarakat sebenarnya masih mencatat pertumbuhan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan belanja pada pekan kedua September tercatat sebesar 6,3% secara tahunan (year-on-year/YoY), sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan 6,4% pada pekan sebelumnya.

Jika dilihat sepanjang tahun, rata-rata pertumbuhan belanja pada kuartal ketiga 2026 hingga pekan kedua September mencapai 6,1%.

Angka tersebut sama dengan kuartal kedua 2026 yang juga sebesar 6,1%, tetapi lebih rendah dibandingkan kuartal pertama yang mencapai 6,4%.

Kendati sedikit melambat, pertumbuhan belanja pada kuartal ketiga tahun ini masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 5,4%.




Pertumbuhan Tahunan MSIPertumbuhan Tahunan MSI Foto: Mandiri Institute

Di balik perkembangan itu, ada hal lain yang menarik untuk diperhatikan, yaitu bagaimana masyarakat membagi uang belanjanya.

Laporan Mandiri menunjukkan masyarakat semakin selektif dalam menentukan pengeluaran. Beberapa kebutuhan mengambil porsi yang lebih besar, sementara kategori lainnya justru mengecil.

Masyarakat Makin Selektif dalam Berbelanja

Salah satu perubahan menarik terlihat pada belanja restoran dan supermarket yang mulai menunjukkan perbaikan pada September 2026.

Berdasarkan laporan MSI, porsi pengeluaran masyarakat untuk restoran mencapai 19,6% dari total nilai belanja pada September 2026.

Angka tersebut meningkat dibandingkan Agustus yang sebesar 19,0%.

Kenaikan lebih besar terjadi pada belanja supermarket. Porsinya meningkat dari 16,3% pada Agustus menjadi 17,4% pada September.

Jika digabungkan, kedua kategori tersebut kini menyumbang 37,0% dari total nilai belanja yang tercatat dalam laporan Mandiri, naik dari 35,3% pada bulan sebelumnya.

Dengan demikian, porsi gabungan belanja restoran dan supermarket meningkat 1,7 poin persentase dalam satu bulan.

Kenaikan ini menjadi salah satu tanda bahwa pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari dan makan di luar mulai menunjukkan perbaikan, meskipun porsi gabungannya masih sedikit di bawah September 2025 yang sebesar 37,9%.

Perkembangan positif juga terlihat jika melihat pertumbuhan nilai belanja secara tahunan.

Belanja restoran tumbuh 5,1% YoY pada September 2026. Sementara itu, belanja supermarket meningkat 4,5% YoY, jauh lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tidak mencatat pertumbuhan.

Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat masih aktif membelanjakan uangnya untuk kebutuhan sehari-hari dan makan di luar, meskipun pertumbuhan belanja secara keseluruhan sedikit melambat.

Kondisi tersebut juga memperlihatkan bahwa perubahan gaya hidup tidak selalu membuat seluruh pengeluaran berkurang secara bersamaan.

Masyarakat bisa saja mengurangi belanja untuk kebutuhan tertentu, tetapi tetap mengeluarkan uang untuk kebutuhan lain yang dianggap lebih penting atau sesuai dengan kemampuan keuangannya.

Pola seperti ini sejalan dengan temuan Mandiri mengenai selective spending, yakni ketika masyarakat semakin selektif dalam menentukan prioritas belanja.

Namun, kenaikan porsi belanja restoran dan supermarket belum tentu berarti seluruh masyarakat mengeluarkan uang lebih banyak dibandingkan sebelumnya.

Angka tersebut menunjukkan perubahan bagian pengeluaran dari total belanja, bukan langsung menunjukkan perubahan jumlah barang atau jasa yang dibeli.




Proporsi nilai belanja total, diurut berdasarkan September 2026 (%)Proporsi nilai belanja total, diurut berdasarkan September 2026 (%) Foto: Mandiri Institute

Belanja Handphone dan Fashion Ambil Porsi Lebih Kecil

Di tengah meningkatnya porsi belanja restoran dan supermarket, sejumlah kategori pengeluaran lainnya harus mengalami penurunan.

Salah satu penurunan terbesar terlihat pada belanja handphone.

Pada Agustus 2026, pengeluaran untuk handphone menyumbang 17,6% dari total nilai belanja masyarakat. Namun, porsinya turun menjadi 16,3% pada September.

Kondisi serupa terlihat pada kebutuhan rumah tangga (household) yang porsinya turun dari 8,9% menjadi 7,9%.

Belanja fashion juga mengalami penurunan porsi, dari 7,0% pada Agustus menjadi 6,5% pada September.

Perubahan ini menarik jika dikaitkan dengan fenomena downgrade lifestyle yang sedang ramai diperbincangkan.

Sebab, salah satu bentuk penyesuaian gaya hidup adalah mengurangi pembelian barang yang belum terlalu dibutuhkan atau menunda mengganti barang yang masih layak digunakan.

Di sisi lain, sejumlah kategori justru mengalami peningkatan porsi pengeluaran.

Belanja elektronik meningkat dari 5,9% menjadi 6,1%, sementara pengeluaran untuk kesehatan naik dari 5,5% menjadi 5,8%.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan pola belanja masyarakat tidak terjadi secara merata. Ada kebutuhan yang mengambil porsi lebih besar, tetapi ada pula yang mendapat bagian lebih kecil dibandingkan bulan sebelumnya.

Belanja Hiburan dan Tiket Pesawat Masih Tertekan

Perubahan kebiasaan belanja juga menarik untuk dilihat dari pengeluaran masyarakat untuk hiburan dan perjalanan.

Bagi sebagian orang, kebutuhan seperti menonton hiburan berbayar, menjalankan hobi, hingga berlibur menjadi pengeluaran yang lebih mudah dikurangi atau ditunda ketika ingin berhemat.

Laporan Mandiri memperlihatkan bahwa perkembangan belanja pada kategori tersebut masih beragam.

Secara mingguan, belanja kelompok rekreasi (leisure) sebenarnya meningkat 0,27% pada pekan kedua September.

Kenaikan terutama ditopang oleh belanja hobi dan hiburan yang meningkat 0,48%, serta perhiasan sebesar 0,22%.

Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, belanja hobi dan hiburan masih mengalami penurunan 2,7%.

Kondisi serupa terlihat pada pengeluaran untuk tiket pesawat yang turun 4,8% secara tahunan.

Hal ini berbeda dengan belanja untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari yang masih mencatat pertumbuhan positif.

Belanja bahan bakar meningkat 6,6% YoY, sementara pengeluaran untuk otomotif tumbuh 6,3%. Belanja transportasi juga masih meningkat 10,7% secara tahunan.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa aktivitas belanja untuk kebutuhan perjalanan dan mobilitas tidak semuanya bergerak ke arah yang sama.

Pengeluaran untuk tiket pesawat masih mengalami penurunan, sedangkan belanja bahan bakar dan transportasi tetap tumbuh.

Kondisi tersebut memberikan gambaran bahwa kebutuhan yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari masih menjadi bagian penting dari pengeluaran masyarakat.

Pada akhirnya, fenomena downgrade lifestyle dan perubahan pola belanja masyarakat menjadi dua perkembangan yang menarik untuk dilihat bersamaan.

Ramainya pembicaraan mengenai penurunan standar gaya hidup menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mulai memikirkan kembali cara mereka menggunakan uang.

Sementara itu, data Mandiri menunjukkan bahwa aktivitas belanja secara keseluruhan masih tumbuh, tetapi masyarakat semakin selektif dalam membagi pengeluarannya.

Porsi belanja restoran dan supermarket meningkat, sedangkan pengeluaran untuk handphone, fashion, dan sejumlah kebutuhan lainnya mengambil bagian yang lebih kecil.

Meski laporan MSI tidak secara langsung mengukur fenomena downgrade lifestyle, perubahan komposisi pengeluaran tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan belanja masyarakat terus bergerak.

Masyarakat tidak serta-merta berhenti berbelanja. Mereka tetap mengeluarkan uang, tetapi semakin memilih kebutuhan yang akan didahulukan.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *