
Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara melemah lagi.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis (8/10/2026) ditutup melemah 0,8% ke US$ 150,45 per ton.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatifnya dengan melemah 1,6% dalam dua hari terakhir.
Harga batu bara China menunjukkan pergerakan beragam setelah libur Hari Nasional. Di pasar batu bara termal, harga di tingkat tambang bergerak bervariasi, sementara di pasar batu bara kokas, penjual mulai memangkas penawaran di tengah sikap pembeli yang cenderung menahan transaksi.
Kondisi tersebut mencerminkan pasar yang belum sepenuhnya pulih setelah libur panjang. Sejumlah penjual berupaya menyesuaikan harga untuk menarik pembeli, tetapi kehati-hatian pelaku pasar masih membatasi aktivitas perdagangan.
Di pasar batu bara termal, menunjukkan pergerakan harga yang berbeda-beda di sejumlah wilayah pertambangan utama China.
Berdasarkan survei terhadap 117 tambang batu bara termal, sebanyak 15 tambang menaikkan harga dengan rata-rata kenaikan CNY27,67 per ton. Sebanyak sembilan tambang menurunkan harga rata-rata CNY15,56 per ton, sedangkan 93 tambang lainnya mempertahankan harga.
Kenaikan harga di sejumlah tambang didorong pembelian untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Namun, peningkatan persediaan di beberapa lokasi dan sikap hati-hati pedagang menahan penguatan harga secara lebih luas.
Sementara itu, di pasar batu bara kokas, penjual memangkas penawaran harga setelah libur, sedangkan pembeli cenderung menunggu perkembangan pasar sebelum kembali melakukan pembelian.
Salah satu faktor yang memengaruhi pasar batu bara kokas adalah pasokan dari Mongolia. Peningkatan pasokan lintas perbatasan berpotensi menambah ketersediaan batu bara impor di China dan menekan daya tawar penjual.
Di sisi permintaan, ketidakpastian industri baja serta tekanan terhadap margin produsen baja membuat pembeli lebih berhati-hati dalam menambah persediaan. Selisih harga antara batu bara kokas domestik dan impor yang semakin menyempit juga mengurangi daya tarik pembelian dari luar negeri.
Kondisi ini membuat penjual menghadapi tekanan untuk menyesuaikan harga agar transaksi kembali berjalan. Namun, pembeli yang masih menahan diri membuat aktivitas perdagangan belum menunjukkan pemulihan yang kuat.
Ke depan, pergerakan pasar batu bara China akan bergantung pada pemulihan permintaan setelah libur, perkembangan stok di tingkat tambang, serta kebutuhan bahan baku industri baja.
AS Belum Mau Pensiunkan PLTU
Pembangkit listrik di Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan pensiun atau berhenti beroperasi pada 2026 berpotensi tetap beroperasi lebih lama.
Hal ini disampaikan lembaga riset di bawah Departemen Energi AS (Department of Energy/DOE) pada Senin, seiring berlanjutnya tren penundaan pensiun pembangkit yang dimulai tahun lalu, ketika konsumsi listrik dan harga listrik mencapai rekor tertinggi di sejumlah wilayah negara tersebut.
Secara nasional, sekitar 11 gigawatt (GW) kapasitas pembangkit listrik di AS diperkirakan akan berhenti beroperasi tahun ini, menurut Energy Information Administration (EIA).
Hampir 60% dari kapasitas tersebut berasal dari pembangkit listrik tenaga batu bara, sedangkan sisanya merupakan pembangkit berbahan bakar gas alam, berdasarkan riset EIA.
Pada 2025, hanya 4,6 GW kapasitas pembangkit listrik yang benar-benar pensiun. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak 2008 dan kurang dari separuh kapasitas yang semula dijadwalkan berhenti beroperasi sepanjang tahun.
Penundaan tersebut mencakup pembangkit peaker, yakni pembangkit yang hanya digunakan ketika permintaan listrik mencapai puncaknya, serta pembangkit yang memasok listrik secara terus-menerus untuk memenuhi kebutuhan dasar (baseload).
Penundaan itu terjadi setelah DOE mengeluarkan perintah darurat untuk memperpanjang masa operasi sejumlah pembangkit listrik berkapasitas besar, yang sebagian besar menggunakan batu bara.
Batu Bara Andal untuk Pasokan Dasar, tetapi Sangat Mencemari
DOE menyebut kekhawatiran terhadap potensi kekurangan pasokan listrik di jaringan sebagai salah satu alasan untuk mempertahankan pengoperasian pembangkit-pembangkit tersebut. Beberapa di antaranya bahkan telah dibangun pada pertengahan abad ke-20.
Pembangkit listrik tenaga batu bara secara umum dianggap sebagai sumber listrik yang andal dan mampu memasok energi sepanjang waktu. Namun, pembangkit jenis ini menghasilkan polusi lebih tinggi dibandingkan sebagian besar teknologi pembangkitan listrik lainnya.
Sejumlah pembangkit batu bara yang terhindar dari penghentian operasi pada tahun lalu, termasuk pembangkit J.H. Campbell di Michigan dan pembangkit Cumberland di Tennessee, semula dijadwalkan berhenti beroperasi pada 2026.
Namun, penghentian operasi kedua pembangkit tersebut dan pembangkit lainnya kemungkinan kembali ditunda.
(mae/mae)
Leave a comment