Home Finance Harga Emas Terjepit 2 kekuatan! Suku Bunga Jadi Bensin, Fed Jadi Rem
Finance

Harga Emas Terjepit 2 kekuatan! Suku Bunga Jadi Bensin, Fed Jadi Rem

Share
Harga Emas Terjepit 2 kekuatan! Suku Bunga Jadi Bensin, Fed Jadi Rem
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas tertekan setelah terbang tinggi.

Namun, pelemahan cukup terjaga karena prospek suku bunga riil jangka panjang yang lebih rendah mampu mengimbangi kekhawatiran inflasi yang masih tinggi akibat kenaikan harga minyak.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (20/8/2026) ditutup di posisi US$ 4517,87 per troy ons. Harganya melandai 0,07%.

Pelemahan ini berbanding terbalik dengan lonjakan harga hingga 4,3% pada Rabu sebelumnya.

Harga emas mulai membaik pada hari ini. Pada Jumat (21/8/2026) pukul 06.39 WIB, harga emas menguat 0,13% ke US$ 4523,88 per troy ons.



Sehari sebelumnya, emas melonjak lebih dari 4%, sementara dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil obligasi AS anjlok tajam setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana meningkatkan pembelian kembali obligasi Treasury bertenor panjang.

Analis pasar Jim Wyckoff dari American Gold Exchange mengatakan harga emas teriimbas aksi ambil untung bandar.

“Emas berada di bawah tekanan aksi ambil untung setelah mencatat kenaikan kuat pada sesi sebelumnya.” Ujarnya, dikutip dari Refinitiv.

Menurutnya, risalah rapat The Fed yang cenderung hawkish serta kenaikan harga minyak turut menekan emas karena kembali memicu kekhawatiran inflasi.

Namun, emas berhasil memangkas sebagian kerugiannya setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa pemerintah dapat meningkatkan pembelian kembali obligasi Treasury, bahkan nilainya bisa lebih dari US$4 miliar per penerbitan.

 

“Emas mendapat dukungan dari prospek suku bunga riil jangka panjang yang lebih rendah,” ujar analis independen Tai Wong.

Emas memang kerap dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tarik emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.

The Fed Jadi Sorotan

Risalah rapat The Fed pada Juli yang dirilis Rabu (19/8/2026) menunjukkan sejumlah pejabat masih mengkhawatirkan inflasi. Beberapa pejabat bahkan tetap membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan probabilitas 67,4% The Fed mempertahankan suku bunga pada September.

Di sisi lain, harga minyak terus melanjutkan kenaikan dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan. Kebuntuan perundingan terkait konflik Iran membuat pasar kembali khawatir terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.

 

Morgan Stanley menilai masih terdapat peluang harga emas menembus US$5.000 per troy ons pada 2027, bahkan bisa terjadi lebih cepat, meskipun volatilitas tetap membayangi.

“Karena ekonom AS kami memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga, kami melihat peluang emas menembus US$5.000 per ounce pada 2027, bahkan berpotensi lebih awal,” tulis analis Morgan Stanley.

Berbeda dengan emas, harga perak masih mengangaksa.

Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Kamis (20/8/2026) ditutup di posisi US$ 68,07 per troy ons. Harganya melesat 1,73%.

Kenaikan ini memperpanjang tren positifnya dengan menguat 7,4% dalam dua hari terakhir.

Harga perak masih menguat pada hari ini. Pada Jumat (21/8/2026) pukul 06.46 WIB, harganya menguat 0,15% ke US$ 68,18 per troy ons


Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *