Home Finance Olahraga di Tengah Polusi Tinggi, Masih Adakah Manfaatnya?
Finance

Olahraga di Tengah Polusi Tinggi, Masih Adakah Manfaatnya?

Share
Olahraga di Tengah Polusi Tinggi, Masih Adakah Manfaatnya?
Share




Jakarta, CNBC IndonesiaBerolahraga di tengah kota besar yang dipenuhi kendaraan bermotor ternyata tidak selalu memberikan manfaat kesehatan secara optimal. Paparan polusi udara saat berlari atau bersepeda dapat meningkatkan jumlah partikel berbahaya yang masuk ke dalam tubuh, meski aktivitas fisik tetap memiliki manfaat kesehatan yang signifikan.

Di tengah risiko batuk dan gangguan pernapasan akibat menghirup udara tercemar, muncul pertanyaan penting: apakah berolahraga di jalanan yang penuh polusi justru lebih banyak mendatangkan dampak buruk daripada manfaat?

Melansir BBC, sejumlah ahli menjelaskan bahwa jawabannya bergantung pada tingkat polusi, kondisi kesehatan seseorang, serta lokasi dan intensitas olahraga.

Polusi Udara Mengandung Beragam Zat Berbahaya

Polusi udara telah lama dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan kronis, mulai dari penyakit jantung, gangguan pernapasan, kanker, hingga peningkatan risiko kematian dini.

Audrey de Nazelle, profesor di Imperial College London yang meneliti dampak polusi terhadap aktivitas fisik, mengatakan polusi udara dapat memengaruhi hampir seluruh organ tubuh.

“Dulu kita mengira dampaknya hanya sebatas penyakit pernapasan, namun polusi juga [dikaitkan dengan] penyakit kardiovaskular, diabetes, fungsi kognitif, serta gangguan reproduksi,” ungkapnya, seperti dikutip BBC.

Salah satu polutan yang menjadi perhatian utama adalah PM2.5, yakni partikel halus berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya sekitar 30 kali lebih kecil dibandingkan ketebalan sehelai rambut manusia. Partikel ini dapat dilepaskan ke udara melalui aktivitas lalu lintas dan masuk jauh ke dalam paru-paru. Selanjutnya, partikel tersebut berpotensi menembus aliran darah dan menyebar ke berbagai bagian tubuh. Dalam jangka panjang, paparan PM2.5 juga dikaitkan dengan gangguan pada otak.

Selain PM2.5, masyarakat yang berolahraga di jalanan padat juga dapat terpapar nitrogen dioksida. Sejumlah penelitian mengaitkan polutan ini dengan peningkatan risiko penyakit Parkinson, peradangan paru-paru, serta gangguan perkembangan dan fungsi paru-paru dalam jangka panjang.

Polutan lain yang juga dapat ditemukan di udara perkotaan antara lain sulfur dioksida, amonia, karbon monoksida, dan ozon permukaan tanah.

Bernapas Lebih Dalam Saat Olahraga Tingkatkan Paparan

Ketika berlari, bersepeda, atau melakukan aktivitas fisik berintensitas tinggi, tubuh akan bernapas lebih cepat dan lebih dalam. Kondisi ini membuat volume udara yang masuk ke paru-paru meningkat. Artinya, seseorang berpotensi menghirup lebih banyak udara tercemar ketika berlari dibandingkan saat berjalan kaki dalam jarak yang sama.

Namun, berada di dalam mobil tidak selalu berarti seseorang terbebas dari polusi udara.

Rudy Sinharay, dokter konsultan pernapasan dan spesialis kanker paru di Imperial College London NHS Trust, mengatakan paparan polusi saat bersepeda bahkan dapat lebih rendah dibandingkan ketika seseorang berada di dalam mobil.

“Saat bersepeda, tubuh Anda cenderung lebih banyak bergerak. Ada lebih banyak aliran udara yang berembus,” ujarnya.

Olahraga di Tengah Polusi Tinggi, Masih Adakah Manfaatnya?

Meski polusi udara membawa sejumlah risiko kesehatan, para ahli menilai manfaat olahraga secara umum masih lebih besar daripada dampak buruk akibat paparan polusi.

Dalam sebuah studi pemodelan pada 2016, de Nazelle dan timnya memperkirakan bahwa manfaat kesehatan dari berjalan kaki dan bersepeda lebih besar daripada risiko akibat menghirup udara tercemar.

Risiko akibat polusi mulai mendekati atau melampaui manfaat olahraga hanya pada tingkat pencemaran yang sangat tinggi, seperti yang ditemukan di sejumlah kota paling tercemar di dunia, termasuk Delhi, India, terutama jika aktivitas dilakukan dalam durasi panjang.

Tingkat polusi udara yang dihirup selama berolahraga menjadi faktor penting yang tidak dapat diabaikan.

Studi lain menemukan bahwa olahraga memang dapat membantu mengurangi berbagai dampak buruk polusi, tetapi paparan polusi yang tinggi juga dapat mengurangi manfaat perlindungan dari aktivitas fisik.

Cara Mengurangi Paparan Polusi Saat Berolahraga

Bagi masyarakat yang tinggal di kota besar, berpindah ke pedesaan tentu bukan solusi praktis hanya demi mendapatkan udara yang lebih bersih saat berolahraga.

Namun, ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan polusi.

1. Pilih Rute dengan Lalu Lintas Lebih Sepi

Mencari jalur yang lebih hijau atau memiliki volume kendaraan lebih rendah dapat membantu mengurangi paparan polusi.

De Nazelle menjelaskan bahwa berpindah satu atau dua jalan menjauhi lalu lintas padat berpotensi mengurangi paparan polusi sebesar 20 hingga 30 persen.

Memilih jalan kecil dibandingkan rute utama yang ramai bahkan dapat mengurangi paparan hingga 50 persen, berdasarkan hasil sebuah penelitian.

2. Hindari Jam Sibuk

Khreis menyarankan masyarakat untuk mempertimbangkan waktu berolahraga dan menghindari jam sibuk jika memungkinkan.

Kendaraan yang berhenti dalam kemacetan dapat menciptakan “titik panas polusi” akibat emisi yang terkonsentrasi di area tertentu.

Selain itu, kadar ozon permukaan tanah cenderung meningkat ketika cuaca panas dan sinar matahari terik. Kondisi tersebut dapat memperburuk kualitas udara, terutama jika bertepatan dengan tingginya aktivitas lalu lintas.

3. Pantau Indeks Kualitas Udara

Memeriksa indeks kualitas udara setempat sebelum berolahraga juga dapat membantu menentukan lokasi dan jenis aktivitas yang lebih sesuai.

Sinharay menyarankan agar masyarakat mempertimbangkan olahraga di dalam ruangan atau taman ketika tingkat polusi udara sedang tinggi.

(hsy/hsy)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *