Home Finance Peneliti Temukan 1.600 Cacing di Ikan Ini, Banyak Dikonsumsi Warga RI
Finance

Peneliti Temukan 1.600 Cacing di Ikan Ini, Banyak Dikonsumsi Warga RI

Share
Peneliti Temukan 1.600 Cacing di Ikan Ini, Banyak Dikonsumsi Warga RI
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Ikan tuna berlemak yang sering diolah menjadi sashimi atau ikan kaleng ternyata sering kali mengandung parasit. Penelitian terbaru menemukan parasit di hampir seluruh ikan tuna yang diperiksa para ahli.

Peneliti dari Federal University of Santa Catarina, Brasil, menganalisis 53 ekor tuna yang ditangkap di perairan setempat. Hasilnya, sebanyak 96% ikan ditemukan terinfeksi parasit berupa cacing.

Melansir ScienceAlert, Jumat (2/10/2026), para peneliti menemukan lebih dari 1.600 cacing dari seluruh sampel ikan yang diperiksa. Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Ocean and Coastal Research.

Dengan bantuan mikroskop, tim peneliti memeriksa berbagai organ ikan. Hanya ginjal dan jantung yang secara konsisten tidak ditemukan parasit.

Sementara itu, usus menjadi organ dengan tingkat infeksi tertinggi. Setelahnya, parasit paling banyak ditemukan pada jaringan otot, yakni bagian ikan yang umumnya dikonsumsi manusia, kemudian lambung.

“Temuan ini menyoroti pentingnya pemeriksaan sanitasi,” tulis para peneliti.

Mereka juga menekankan pentingnya membuang organ dalam ikan segera setelah ditangkap. Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah larva berpindah dari organ dalam menuju jaringan otot.

Tuna yang diteliti merupakan spesies Katsuwonus pelamis, yang dikenal sebagai skipjack tuna, oceanic bonito, atau katsuo. Di Indonesia, jenis ini lebih dikenal sebagai ikan cakalang.

Spesies tersebut memiliki nilai komersial tinggi dan merupakan jenis tuna yang paling melimpah di Brasil. Pada 2022, cakalang bahkan menjadi spesies laut ketiga yang paling banyak ditangkap di dunia, dengan volume mencapai 3,1 juta ton.

Penelitian menemukan dua kelompok cacing yang umum menginfeksi ikan tersebut, yakni Trypanorhyncha dan Anisakis. Keberadaan parasit pada ikan sebenarnya bukan fenomena baru. Ikan dan parasit telah hidup berdampingan dalam ekosistem laut selama proses evolusi yang panjang.

Namun, jumlah parasit yang ditemukan dalam penelitian ini serta penyebarannya ke berbagai organ ikan menjadi perhatian para peneliti.

Meski demikian, penelitian tersebut masih berskala kecil karena hanya melibatkan 53 ikan dan dilakukan pada satu periode tertentu. Sehingga hasilnya belum bisa digunakan untuk menyimpulkan bahwa 96% tuna atau cakalang di seluruh dunia terinfeksi parasit.

Apakah Berbahaya Jika Dimakan?

Konsumen tidak perlu langsung membuang tuna kalengan yang ada di rumah. Infeksi pada manusia akibat larva Trypanorhyncha tergolong jarang. Selain itu, tidak semua spesies Anisakis diketahui dapat menyebabkan penyakit pada manusia.

Sebagian besar parasit juga tidak lagi berbahaya setelah mati melalui proses pemasakan atau pengalengan. Risiko lebih besar muncul ketika ikan yang mengandung spesies parasit tertentu dikonsumsi mentah atau tidak dimasak dengan sempurna.

Parasit yang masih hidup dapat menempel pada dinding saluran pencernaan manusia. Kondisi tersebut dapat menyebabkan sejumlah gangguan pencernaan, mulai dari sakit perut, mual, muntah hingga diare.

Industri makanan laut umumnya melakukan pemeriksaan sebelum ikan dijual kepada konsumen. Parasit yang terlihat akan dibuang dalam proses pengolahan.

Namun, beberapa parasit berukuran sangat kecil masih mungkin luput dari pemeriksaan. Selain persoalan kesehatan, keberadaan parasit juga dapat mempengaruhi nilai jual produk makanan laut.

“Di luar potensi dampaknya terhadap kesehatan manusia, parasit dapat mengurangi daya jual dan nilai produk makanan laut karena implikasinya terhadap keamanan dan kualitas pangan, menurunkan kepercayaan konsumen, serta menyebabkan kerugian ekonomi bagi industri perikanan,” tulis para peneliti.

Penelitian sebelumnya bahkan menemukan indikasi peningkatan jumlah parasit Anisakis dalam makanan laut mentah. Studi yang dilakukan peneliti University of Washington pada 2020 menemukan jumlah cacing Anisakis meningkat sekitar 280 kali lipat sejak 1970-an.

Rata-rata temuan berubah dari kurang dari satu cacing pada setiap 100 ikan yang ditangkap menjadi lebih dari satu cacing pada setiap ikan inang. Namun, peningkatan tersebut tidak serta-merta menjadi pertanda buruk bagi manusia maupun ekosistem laut.

Parasit Anisakis memiliki siklus hidup yang melibatkan berbagai makhluk laut, termasuk ikan, cumi-cumi, paus dan lumba-lumba. Parasit tersebut sebenarnya tidak menjadikan manusia sebagai inang utama.

Ahli parasit dari University of Washington, Chelsea Wood, bahkan mengatakan keberadaan parasit tertentu dapat menjadi indikator ekosistem laut yang sehat.

“Semua orang berasumsi bahwa cacing pada salmon adalah tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres,” kata Wood.

“Namun, siklus hidup anisakid melibatkan banyak komponen dalam rantai makanan. Saya melihat keberadaan mereka sebagai sinyal bahwa ikan di piring Anda berasal dari ekosistem yang sehat,”ujarnya melanjutkan.

Para ilmuwan hingga kini belum dapat memastikan apakah jumlah parasit yang ditemukan pada cakalang di Brasil tersebut tergolong normal. Penelitian mengenai parasit pada ikan ini juga masih relatif terbatas meskipun spesies tersebut penting bagi industri perikanan dunia. Bagi konsumen, cara paling sederhana untuk menekan risiko tetap dengan memasak ikan secara matang.

“Kalau saya boleh jujur, ada cacing dalam segala sesuatu yang Anda makan,” ujar Wood.

“Tetapi memasak membunuh berbagai parasit yang kita temukan dalam makanan. Hanya ketika kita mengonsumsi makanan mentah atau kurang matang, kita berpotensi berhadapan dengan parasit hidup dan infeksius,” katanya lagi.

(hsy/hsy)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *