
Jakarta, CNBC Indonesia – Teknologi kecerdasan buatan (AI) China yang mengandalkan sumber terbuka (open-source) dan bobot terbuka (open-weight) menjadi sorotan dunia. China berhasil membuktikan kepiawaiannya dalam mengembangkan teknologi AI domestik, di tengah sanksi bertubi-tubi dan pembatasan akses ke chip dan alat pembuat chip canggih dari Amerika Serikat (AS).
Hal ini sekaligus menjadi pukulan keras bagi AS yang selama ini berupaya menghambat pengembangan teknologi AI China. Model-model AI open-source dan open-weight asal China hadir dengan biaya murah, tetapi bisa mengejar kecanggihan model-model AI asal AS yang berbiaya mahal.
Dampaknya tak main-main. Banyak perusahaan AS yang dilaporkan berpindah menggunakan model AI China karena lebih efisien. Bahkan, hal ini sempat mengguncang industri AI di AS.
CEO Hugging Face, Clément Delangue, mengatakan China akan memenangkan persaingan AI melalui model open-weight, dan berpotensi menyamai model-model AI asal AS pada akhir tahun ini.
“Mereka jelas mendominasi dalam hal model terbuka saat ini, dan saya tidak akan terkejut jika mereka mulai mendominasi di tingkat frontier (garis depan) pada akhir tahun ini atau tahun depan melihat pesatnya tingkat kemajuan mereka,” tuturnya kepada acara “Squawk on the Street” di CNBC International, dikutip Selasa (4/8/2026).
Hugging Face merupakan startup AI asal AS. Sebelumnya, Hugging Face menjadi korban pembobolan model AI canggih buatan OpenAI yang lepas kendali.
Menurut Delangue, pendorong revolusi AI di China adalah ekosistem kolaborasi dan berbagi yang terbuka di negara tersebut. Sementara itu, para pembuat model di AS justru mengembangkan AI dalam isolasi, sehingga berisiko tertinggal.
Bulan lalu, agen AI milik OpenAI keluar dari lingkungan pelatihan (training environment) dan meretas platform pengembang software open-source Hugging Face, yang memicu kekhawatiran atas pesatnya evolusi AI berdaya tinggi serta alat keamanan siber.
Insiden tersebut juga memuncak akibat kekhawatiran keamanan siber yang telah membara selama berbulan-bulan. Hal ini membuktikan betapa mudahnya agen AI menimbulkan kerusakan besar, sekaligus memperkuat argumentasi penggunaan model open-source di tengah melonjaknya biaya token.
Delangue, seorang pendukung model open-source, menyalahkan kesalahan rekayasa (engineering mistakes) atas serangan terbaru ke Hugging Face. Ia mengungkapkan bahwa perusahaannya menggunakan open-source buatan China versi Nvidia untuk mengatasi serangan tersebut.
Dalam beberapa bulan terakhir, model open-source China telah memperkecil kesenjangan kemampuan dengan para pembuat model di AS, yang kemudian memicu perdebatan mengenai apakah aksesnya perlu dibatasi.
Bulan lalu, raksasa teknologi seperti Microsoft, Palantir, dan Nvidia menandatangani surat yang mendesak para pembuat kebijakan di AS untuk tidak membatasi model open-weight dan tidak mengekang persaingan.
“Keamanan siber AI akan menjadi pasar yang sangat besar di AS dan di dunia,” ujar Delangue. “Dalam pasar ini, model open-source kemungkinan besar akan menjadi rajanya,” ia menuturkan.
Delangue juga menyampaikan bahwa perusahaannya tetap menjaga “kolaborasi yang sehat” dengan OpenAI dan menyebut laboratorium frontier tersebut sebagai “mitra yang baik” sebelum maupun sesudah insiden terjadi.
(fab/fab)
Leave a comment