
Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara dunia menembus rekor tertinggi sejak tiga tahun silam dipengaruhi peralihan sumber tenaga listrik akibat perang timur tengah yang berkelanjutan.
Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara dunia per Jumat (16/10/2026) tercatat US$154,6 per ton atau naik 1,14% dibandingkan hari sebelumnya. Secara mingguan, harga batu bara melesat 2,72%. Posisi ini merupakan yang tertinggi sejak September 2023.
Lonjakan harga batu bara dipicu kenaikan harga gas serta kekurangan pasokan dari Indonesia.
Dengan harga batu bara saat ini sekitar 80% lebih murah dibandingkan LNG, pembeli di Asia dan Eropa meningkatkan impor menjelang musim dingin.
Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) pada September juga memperkirakan permintaan batu bara global akan mencapai rekor tertinggi tahun ini.
Proyeksi tersebut muncul meskipun berbagai upaya transisi menuju energi yang lebih bersih terus berlangsung dan sejumlah pembangkit listrik tenaga batu bara ditutup di Eropa serta Amerika Utara.
Sementara itu, Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar di dunia memperketat pembatasan ekspor, yang berkontribusi terhadap penurunan pengiriman batu bara. Indonesia adalah eksportir terbesar batu bara thermal yang digunakan sebagai bahan bakar batu bara.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume ekspor batu bara Indonesia pada periode Januari sampai Agustus 2026 anjlok 9,33% ke 227,7 juta ton.
Laporan dari Kpler menunjukkan ekspor pada Agustus 2026 hanya mencapai 36,1 juta ton atau anjlok 25,3% dibandingkan Agustus tahun sebelumnya.
IEA memperkirakan produksi batu bara Indonesia akan turun lebih dari 12 juta ton tahun ini, dipengaruhi oleh penurunan kuota produksi dan ketidakpastian kebijakan.
India Berburu Batu Bara
Dari India dilaporkan, perusahaan batu bara milik negara India, Coal India Limited (CIL), meningkatkan pasokan batu bara sebesar 12,5% menjadi 61,20 juta ton pada September tahun fiskal 2026/2027. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan listrik.
Pasokan batu bara ke sektor kelistrikan naik 10,63% menjadi 48,90 juta ton, dibandingkan 44,20 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pasokan ke sektor non-regulasi tumbuh lebih tinggi, yakni 19,41%.
Produksi batu bara CIL juga meningkat 9,18% menjadi 53,50 juta ton pada September, dari 49 juta ton setahun sebelumnya.
Sepanjang kuartal II tahun fiskal 2026/2027, pasokan batu bara CIL mencapai 186,04 juta ton, tumbuh 12,04% secara tahunan. Pasokan ke sektor listrik naik 11% menjadi 148,20 juta ton, sedangkan produksi meningkat 3,81% menjadi 151,37 juta ton.
Peningkatan pasokan tersebut membantu CIL mengurangi sekitar 63 juta ton stok batu bara di area tambang selama enam bulan pertama tahun fiskal berjalan.
Setelah musim hujan berakhir, produksi dan pasokan batu bara diperkirakan kembali meningkat. CIL menargetkan produksi sebesar 815 juta ton dan pasokan 850 juta ton sepanjang tahun fiskal 2026/2027.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya India menjaga ketahanan energi di tengah kebutuhan listrik yang terus meningkat.
Batu Bara China Laku Keras
Harga batu bara termal di kawasan pertambangan China bertahan di level tinggi. Kondisi ini didukung penjualan tambang yang lancar serta kenaikan harga pembelian di pelabuhan dan oleh sejumlah kelompok perusahaan besar. Namun, pergerakan harga beberapa jenis batu bara berbeda.
China juga melaporkan produksi batu bara komersial China Coal Energy turun 9,1% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 10,5 juta ton pada September 2026.
Penurunan ini mencerminkan tekanan produksi yang masih dihadapi perusahaan milik negara tersebut di tengah dinamika industri batu bara China.
Data yang dipublikasikan Shanghai Metals Market (SMM) pada Kamis menunjukkan pelemahan produksi China Coal Energy. Namun, kinerja operasional perusahaan secara keseluruhan dan kondisi pasar akan menentukan apakah tren penurunan ini berlanjut.
(ras)
Leave a comment