Home Finance Rial Iran Kian Tak Berdaya, Dolar Tembus 2,69 Juta Rial
Finance

Rial Iran Kian Tak Berdaya, Dolar Tembus 2,69 Juta Rial

Share
Rial Iran Kian Tak Berdaya, Dolar Tembus 2,69 Juta Rial
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Mata uang Iran, rial, kembali menyentuh rekor terendah di pasar bebas. Tekanan ekonomi juga terlihat dari lebarnya perbedaan harga dolar antara kuotasi Refinitiv dan pasar bebas, memperlihatkan kompleksitas sistem valuta asing negara tersebut.

Mengutip Reuters, Minggu (4/10/2026), harga dolar di pasar bebas menurut pemantau valuta asing Bonbast mencapai sekitar 2.688.000 rial pada Sabtu (3/10/2026), naik dari 2.632.000 rial sehari sebelumnya.

Artinya, harga satu dolar bertambah 56.000 rial dalam sehari. Pemantau lainnya, Alanchand, bahkan mencatat harga sebesar 2.695.000 rial per dolar.

Pelemahan rial turut terlihat dalam data Refinitiv yang digunakan CNBC Indonesia. Pada 3 Oktober 2026, kuotasi penutupan bid dolar AS tercatat sebesar 1.747.044 rial per US$.

Angka tersebut meningkat dari 1.374.100 rial pada 31 Agustus 2026. Dengan demikian, harga dolar dalam seri ini naik sekitar 27,14%, setara dengan penurunan nilai rial terhadap dolar sekitar 21,35%.

Data historis satu tahun yang mencakup 3 Oktober 2025 hingga 3 Oktober 2026 juga memperlihatkan perubahan besar. Namun, pembacaan kinerja tahunannya memerlukan kehati-hatian karena terdapat lonjakan dari 42.000 rial pada 1 Januari menjadi 762.100 rial per dolar pada 2 Januari 2026.

Lonjakan tersebut belum bisa langsung dianggap sebagai pelemahan mata uang dalam sehari. Kesinambungan acuan pencatatan perlu dikonfirmasi terlebih dahulu sebelum angka awal dan akhir periode digunakan untuk menghitung depresiasi tahunan.

Meski demikian, pergerakan terbaru memperlihatkan bahwa jumlah rial yang dibutuhkan untuk memperoleh satu dolar terus meningkat dalam kuotasi tersebut.

Satu Dolar, Harga Berbeda

Persoalan valuta asing Iran menjadi semakin kompleks ketika angka Refinitiv dibandingkan dengan harga dolar di pasar bebas.


Harga dolar berdasarkan Bonbast lebih tinggi sekitar 940.956 rial, atau 53,86%, dibandingkan kuotasi Refinitiv. Perbandingan ini bersifat indikatif, sebab kuotasi bid dan harga jual pasar bebas belum tentu memiliki basis transaksi yang sama.

Perbedaan tersebut tidak otomatis berarti salah satu sumber keliru. Japan External Trade Organization (JETRO) menjelaskan bahwa Iran memiliki beberapa kurs untuk perdagangan, pengiriman uang, dan penukaran valuta asing. Kurs yang berlaku bergantung pada jenis transaksi serta ketentuannya.

Karena itu, angka kurs yang lebih rendah belum tentu merupakan harga dolar yang dapat diakses seluruh masyarakat. Data Refinitiv yang tersedia juga belum menjelaskan kategori pasarnya, sehingga tidak bisa langsung disebut sebagai kurs resmi atau kurs subsidi.

Jurang harga ini menunjukkan mengapa kondisi mata uang Iran tidak cukup dibaca melalui satu angka. Jalur transaksi dan akses valuta asing ikut menentukan berapa banyak rial yang harus dikeluarkan untuk memperoleh dolar.

Tekanan Merembet ke Rumah Tangga dan Bisnis

Reuters melaporkan rial telah kehilangan lebih dari separuh nilainya dalam setahun. Inflasi di atas 70% memperberat biaya kebutuhan pokok dan sewa, sementara sanksi AS serta blokade laut menekan ekspor minyak.

Banyak warga beralih membeli dolar, mata uang kuat lainnya, atau emas untuk melindungi tabungan.

Secara ekonomi, kenaikan harga dolar dapat menambah biaya impor dalam mata uang lokal. Jika biaya tersebut diteruskan ke harga jual, tekanan terhadap daya beli masyarakat berpotensi semakin besar.

Bagi pelaku usaha, perbedaan kurs juga dapat menimbulkan ketidakpastian. Biaya memperoleh bahan baku atau barang impor bergantung pada jalur pembelian valuta asing yang dapat mereka gunakan, bukan sekadar angka kurs yang muncul di layar.

Dengan demikian, selisih harga dolar bukan bukti tunggal bahwa seluruh sistem ekonomi Iran telah rusak. Namun, bersama tekanan inflasi dan pelemahan mata uang, kondisi tersebut menggambarkan beratnya persoalan yang dihadapi masyarakat dan dunia usaha.


Bank Sentral Siapkan US$2 Miliar

Untuk menopang rial, bank sentral mengumumkan intervensi hingga US$2 miliar. Televisi pemerintah menyebut bank-bank milik negara mulai menjual dolar.

Mehdi Darabi, pembantu gubernur bank sentral bidang valuta asing, menyalahkan sebagian pelemahan pada prediksi pejabat AS mengenai keruntuhan ekonomi Iran. Ia menyebut penurunan rial saat ini bersifat sementara.

Penambahan pasokan dolar dapat membantu meredakan tekanan jangka pendek. Namun, stabilisasi yang berkelanjutan juga bergantung pada kemampuan memperbaiki pasokan devisa dan memulihkan kepercayaan terhadap rial.

Tantangan Iran akhirnya bukan hanya menahan kenaikan harga dolar. Negara tersebut juga menghadapi kebutuhan untuk mengurangi ketidakpastian akses valuta asing, sehingga masyarakat dan pelaku usaha memiliki acuan transaksi yang lebih jelas.

(gls/gls)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *