Home Finance Surplus Dagang RI Diramal Susut di September, Minyak Jadi Beban
Finance

Surplus Dagang RI Diramal Susut di September, Minyak Jadi Beban

Share
Surplus Dagang RI Diramal Susut di September, Minyak Jadi Beban
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Kalangan ekonom memproyeksikan nilai neraca perdagangan Indonesia akan tetap mencatatkan surplus pada September 2026. Namun, nilainya turun signifikan dibandingkan dengan US$3,55 miliar pada Agustus 2026. Hal ini utamanya dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak yang mengerek nilai impor Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus sekitar US$1,79 miliar pada September 2026. Namun, angkanya menyempit cukup signifikan dibandingkan surplus US$3,55 miliar dolar AS pada Agustus 2026.

Dia memandang penurunan surplus terutama disebabkan oleh pertumbuhan impor yang diperkirakan jauh lebih cepat dibandingkan ekspor. Ekspor diproyeksikan tumbuh 9,39% secara tahunan pada September 2026, meningkat dari 6,72% pada Agustus 2026.

“(Peningkatan ekspor) didukung oleh harga komoditas yang masih relatif tinggi, terutama batu bara, serta permintaan dari China, India, dan Jepang. Perbaikan aktivitas manufaktur di sejumlah negara mitra dagang juga mendukung permintaan ekspor Indonesia,” ujar Josua kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (2/10/2026).

Namun, impor diperkirakan meningkat lebih tinggi, yakni 23,07% secara tahunan pada September 2026, dibandingkan 19,09% pada Agustus. Kenaikan impor terutama didorong oleh tingginya harga minyak dunia yang memperbesar tagihan impor energi, serta meningkatnya kebutuhan bahan baku dan barang modal seiring pemulihan aktivitas manufaktur domestik. Hal ini sejalan dengan PMI manufaktur Indonesia yang kembali berekspansi menjadi 52,4 pada September, dari 49,8 pada Agustus.

Artinya, kata dia, pertumbuhan impor yang tinggi tidak sepenuhnya mencerminkan pelemahan ekonomi. Menurutnya, peningkatan impor sebagian justru berkaitan dengan meningkatnya aktivitas produksi dan investasi.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memproyeksikan surplus neraca perdagangan US$1,52 miliar pada September 2026. Dia memproyeksikan ekspor akan tumbuh 9,31% secara tahunan dan 1,31% secara bulanan pada September 2026. Namun, impor diproyeksikan bakal naik tinggi yakni 25,08% secara tahunan dan 10,3% secara bulanan.

“Neraca perdagangan membaik disebabkan terutama oleh harga komoditas ekspor, terutama batu bara yang naik cukup signifikan. Di sisi lain, ekspor ke China untuk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan beberapa produk metal tampak naik. Impor di sisi lain diperkirakan tetap tumbuh tinggi seiring harga minyak yang terus naik,” ujar David.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz memperkirakan neraca perdagangan mencatat surplus sekitar US$1 miliar pada September 2026. Ekspor diproyeksikan tumbuh 4,5% secara tahunan menjadi US$25,8 miliar pada September 2026. Sementara, impor diproyeksikan meningkat lebih tinggi, yakni 22% menjadi US$24,8 miliar pada September 2026.

Menurutnya, ada tiga faktor utama yang mendasari proyeksi tersebut. Pertama, kenaikan harga minyak meningkatkan tagihan impor energi, sehingga defisit perdagangan migas diperkirakan melebar. Dampaknya terhadap nilai impor tetap bergantung pada volume dan waktu kedatangan barang.

“Kedua, membaiknya aktivitas manufaktur mendukung pemulihan impor bahan baku dan barang penolong, setelah impor turun cukup tajam pada Agustus 2026. Oleh karena itu, kami memperkirakan impor kembali meningkat secara bulanan, meskipun belum sepenuhnya kembali ke level Juli 2026,” ujar Faiz.

Ketiga, ekspor diperkirakan mengalami normalisasi secara bulanan. Secara historis, ekspor September lebih sering turun dibandingkan Agustus. Perbaikan permintaan produk manufaktur dapat memberikan penopang, tetapi belum tentu langsung tercermin dalam pengiriman pada bulan yang sama.

Secara keseluruhan, surplus diperkirakan masih bertahan, tetapi kontribusinya sebagai penyangga pasokan devisa makin terbatas. Faiz mengatakan proyeksi nilai neraca perdagangan condong ke surplus yang lebih kecil, bahkan defisit apabila ternyata pemulihan impor lebih kuat atau ekspor lebih lemah dari perkiraan.

Peringatan Defisit Transaksi Berjalan

Josua mengatakan ketika kenaikan nilai impor terus melampaui ekspor, ketahanan neraca perdagangan dan kemampuan menghasilkan devisa menjadi makin rentan. Kondisi ini perlu dicermati karena surplus perdagangan sebenarnya menjadi salah satu bantalan dalam menjaga stabilitas rupiah. Ketika surplus makin kecil, sementara kebutuhan devisa untuk impor dan pembayaran kewajiban luar negeri tetap tinggi, tekanan terhadap transaksi berjalan dapat meningkat.

Josua memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia berpotensi melebar menjadi sekitar 2,49% terhadap PDB pada 2026, dibandingkan 0,09% pada 2025. Risiko tersebut menjadi makin besar apabila ketidakpastian MSCI mendorong keluarnya modal portofolio secara berkepanjangan.

Oleh karena itu, Josua mengatakan tantangan kebijakan ke depan bukan hanya menjaga inflasi tetap dalam sasaran, tetapi juga memperkuat pasokan pangan, mengurangi ketergantungan impor energi, meningkatkan nilai tambah ekspor manufaktur, dan menjaga kepercayaan investor.

“Neraca perdagangan September masih diperkirakan surplus, tetapi dengan bantalan yang makin tipis. Ini menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih memiliki daya tahan, namun ruang untuk menyerap guncangan eksternal makin terbatas,” ujarnya.

(haa/haa)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *