
Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden AS Donald Trump dilaporkan mengadakan panggilan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Keduanya membahas waktu dan kemungkinan peningkatan operasi tempur terhadap Iran.
Mengutip AFP dan Arab News, Senin (2/11/2026), pejabat AS dan Israel menyebut kedua pemimpin membahas status negosiasi dengan Republik Islam tersebut pada hari Sabtu. Netanyahu mendesak Trump untuk melancarkan serangan segera setelah pemilu sela AS, sementara sang presiden ingin membiarkan negosiasi berjalan terlebih dahulu.
Media Axios melaporkan bahwa sumber dari Israel menggambarkan panggilan telepon itu berlangsung alot. Sementara itu, sumber dari Amerika menyebut percakapan tersebut berjalan langsung.
Selama delapan bulan perang, Trump telah mengejar jalur ganda dengan Teheran melalui kampanye serangan udara sembari berupaya mencapai kesepakatan damai. Ia juga menekankan bahwa Washington tidak terburu-buru mengambil tindakan ofensif karena telah menghancurkan militer dan program nuklir Iran.
“Berjalan baik,” kata Trump kepada wartawan terkait status negosiasi.
Namun, Netanyahu justru berbicara tentang peluang bersejarah satu kali untuk menggulingkan pemerintah Iran. Apalagi, hasil pemilu di AS dan Israel dipandang dapat sangat menentukan arah konflik mematikan ini.
Respons Keras & Garis Merah Iran
Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, secara tegas memperingatkan AS dan Israel tentang potensi serangan baru pada hari Sabtu. Hal ini menyusul ancaman kedua negara tersebut untuk melanjutkan serangan setelah pemilu penting mereka usai.
“Setiap tingkat atau jenis ancaman harus ditanggapi dengan tanggapan yang segera, berdampak, dan tidak dibatasi secara geografis,” tegas Khamenei kepada para komandan militernya.
Khamenei juga memerintahkan pembaruan daftar target Iran dengan memasukkan seluruh aset berwujud dan tidak berwujud milik musuh Zionis-Amerika. Juru bicara angkatan darat Mohammad Akraminia juga memperingatkan bahwa setiap dimulainya kembali permusuhan hanya akan memperluas cakupan perang.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi turut menegaskan melalui platform X bahwa tidak akan ada lagi garis merah dalam konflik ini. Kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei, juga bersikeras akan terus memblokade Selat Hormuz hingga aset mereka yang dibekukan dicairkan.
“Kami ingin perang berakhir sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi yang berani menyerang Iran,” papar Rezaei.
Upaya diplomatik memang sedang berlangsung, termasuk adanya surat dari Wakil Presiden AS JD Vance untuk Rezaei serta kedatangan mediator Qatar. Meski begitu, Araghchi menyebut bahwa saat ini belum ada rencana pertemuan langsung antara delegasinya dengan para pejabat AS.
Lonjakan Harga Minyak Global
Sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu, Teheran telah membatasi pelayaran melalui Selat Hormuz yang biasanya membawa sekitar seperlima konsumsi minyak global. Blokade yang berlangsung intens tersebut telah menyebabkan lonjakan tajam pada harga energi global.
Kenaikan harga ini membuat perang menjadi sangat tidak populer di kalangan publik AS menjelang pemilu sela kongres hari Selasa. Para pemilih di AS kini sangat marah atas lonjakan harga bahan bakar dan biaya hidup lainnya yang bisa berdampak pada perolehan suara.
Sebuah kapal yang melintasi selat tersebut dilaporkan menabrak ranjau dan terbakar pada hari Sabtu. Pada hari Jumat, Garda Revolusi Iran juga menyatakan bahwa tiga kapal tanker minyak telah dihentikan setelah mengalami insiden tidak terduga atau menabrak ranjau.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan bahwa pihaknya bisa mencapai tujuan militer jika memang menginginkannya. Meski begitu, ia menyebut bahwa Trump belum membuat keputusan mutlak tentang serangan baru.
“Jika ada solusi diplomatik, kami akan terbuka untuk itu,” pungkas Rubio.
(tps/tps)
Leave a comment