
Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mendorong pelaksanaan program konversi penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) menggunakan gas bumi melalui Jaringan Gas Rumah Tangga (Jargas). Salah satu upayanya melalui percepatan pembangunan ekspansi jargas sebanyak 1 juta sambungan.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman menyebutkan bahwa pemerintah telah menyelesaikan pembangunan jargas sebanyak 115.000 sambungan rumah (SR) tahun ini sebelum melanjutkan proyek ekspansi 1 juta jargas berikutnya.
“Contoh tahun ini jargas 115.000 (SR) kan sudah selesai. Itu kan juga salah satu konversi yang berjalan. Lalu sebentar lagi akan ada juga jargas tambahan 1 juta (SR),” ujar Laode saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Selain mendorong alih LPG ke jargas, pemerintah juga mendorong penataan distribusi dan pengendalian volume subsidi LPG. Upaya yang dilakukan salah satunya melalui pengoptimalan basis data pengguna terpadu agar penyaluran LPG bersubsidi dapat berjalan efisien dan terarah.
“Jadi, kita ini kan sudah selama 2 tahun Pak Menteri melakukan penataan. Database sudah dibangun, tinggal bagaimana menggunakan database ini agar lebih optimal sehingga penataan bisa berjalan dengan adanya ini,” tambahnya.
Laode menjelaskan bahwa pemerintah mensinkronisasikan data MyPertamina dengan data kependudukan Dukcapil serta data Kepolisian. Integrasi data tersebut dimanfaatkan untuk menjaga stabilitas penetapan volume LPG dan Solar subsidi.
“Kita sudah punya data MyPertamina, disempurnakan dengan Dukcapil, disempurnakan lagi nanti dengan data dari Kepolisian terkait kendaraan. Nah itu nanti dilakukan penataan. Makanya kan penetapan volume Solar subsidi dan LPG kan tetap sama dengan tahun lalu karena agar penataan itu bisa bermanfaat untuk mengendalikan subsidinya,” tandasnya.
Danantara Dorong Program Jargas
Di lain sisi, Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria mendorong PT Pertamina Gas (Pertagas) mengambil peran strategis dalam pengembangan Jargas nasional.
Dalam pertemuan dengan jajaran direksi Pertagas di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Selasa (29/9/2026), Dony menilai pengembangan jargas dapat menjadi salah satu enabler menurunkan subsidi gas sekaligus mengurangi devisa outflow akibat impor LPG.
“Kalau ini bisa kita lakukan ke depan, menurut saya ini Pertamina Gas ini akan menjadi enabler kita untuk menurunkan subsidi di sisi energi kita. Yang kedua juga mencegah terjadinya devisa outflow kita,” ungkap Dony, dikutip dari akun Instagram @bumn_id, Selasa (29/9/2026).
“Kuncinya adalah dari jaringan gas. Nah ini akan menjadi fokus kita ke depan. Kalau itu kita bisa lakukan, itu devisa kita yang tidak perlu terbuang sia-sia itu banyak sekali bisa kita hemat,” ujarnya.
Untuk mendukung agenda tersebut, Pertagas diarahkan menyiapkan masterplan jargas nasional.
Dokumen tersebut diharapkan menggambarkan arah pengembangan jargas secara menyeluruh, termasuk kesiapan infrastruktur, model bisnis, serta strategi pengembangan pasar, untuk kemudian dipresentasikan dalam 2-3 bulan ke depan.
“Saya kasih waktu 2-3 bulan atau nggak hingga akhir tahun untuk mereka mempresentasikan lagi bagaimana master plan gas kita ke depan, sesuai arahan kita hari ini. Kita mulai mungkin dari kota besar misalkan apakah Jakarta dulu, atau Surabaya dulu atau di mana dulu, yang in line dengan apa yang diharapkan tadi,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Pertagas Indra Pehulisa Sembiring mengatakan bahwa perusahaan kini bisa dikatakan sebagai pengelola seluruh transportasi gas di Pulau Jawa. Hal ini terutama setelah beroperasinya Pipa Transmisi Gas Cirebon-Semarang.
“Ini Pipa Cirebon-Semarang yang dibangun Migas dengan menggunakan dana APBN. Namun setelah selesai, operatorshipnya sekarang diserahkan kepada Pertagas melalui mekanisme tender. Jadi, boleh dibilang seluruh transportasi gas di Pulau Jawa ini dioperasikan oleh Pertagas,” ungkap Indra.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, terdapat program Jargas Rumah Tangga dengan kontrak jamak (multi years contract/MYC) Tahun Anggaran 2025-2026 (APBN) untuk pembangunan 119.379 sambungan rumah (SR) dengan anggaran Rp539,5 miliar.
Selain itu, terdapat tambahan jaringan gas rumah tangga sebanyak 41.819 SR senilai Rp328,33 miliar serta tambahan jargas MYC 2026-2028 sebanyak 959.232 SR dengan anggaran Rp3,351 triliun.
(pgr/pgr)
Leave a comment