
Jakarta, CNBC Indonesia – Industri petrokimia dalam negeri masih menghadapi tantangan besar untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional. Saat ini, kapasitas produksi industri petrokimia Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 60% kebutuhan domestik, sementara 40% lainnya masih harus dipenuhi melalui impor.
Kondisi tersebut semakin menantang dengan masuknya produk petrokimia asal China yang menawarkan harga lebih murah. Persaingan harga ini menjadi perhatian pelaku industri dalam negeri karena produk impor berpotensi semakin menguasai pasar Indonesia.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group Suryandi mengungkapkan, produk petrokimia China memiliki keunggulan biaya produksi karena mendapatkan dukungan pemerintah dan memiliki akses bahan baku yang lebih murah. Selain itu, produsen China juga mengembangkan teknologi pengolahan yang tidak terlalu bergantung pada nafta.
“Produk petrokimia yang masuk ke Indonesia dari China itu murah. Kenapa bisa murah? Karena mereka mendapatkan dukungan dari pemerintah. Bahan bakunya murah,” ujar Suryandi dalam diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin), Senin (2/11/26).
Produsen petrokimia China juga mengembangkan teknologi ethane yang memungkinkan proses produksi etilen tanpa terlalu bergantung pada nafta. Kondisi tersebut membuat biaya produksi mereka lebih kompetitif dibandingkan produsen yang masih mengandalkan nafta.
“China juga mengembangkan sisi hulunya dengan memakai teknologi ethane, tidak tergantung kepada nafta. Jadi mereka bisa cracking menjadi etilen untuk produksi PE. Lalu juga ada subsidi-subsidi, sehingga harga produk dari China itu sangat kompetitif,” katanya.
Di sisi lain, industri petrokimia Indonesia masih menghadapi tantangan dari sisi ketersediaan bahan baku. Sebagian besar kebutuhan nafta masih bergantung pada pasokan dari luar negeri, sehingga gejolak geopolitik dapat memengaruhi biaya produksi dan daya saing industri nasional.
Untuk menghadapi persaingan, Chandra Asri menyebut ada beberapa strategi yang perlu dilakukan, mulai dari menjaga keandalan operasional pabrik, meningkatkan efisiensi biaya, hingga mengembangkan produk yang memiliki spesifikasi lebih khusus. Perusahaan juga berupaya memperkuat hubungan dengan pelanggan agar produk lokal tetap menjadi pilihan.
“Pertama, kita harus jaga operasional, jangan sampai terganggu. Kemudian, seberapa prudent dan seberapa strategis kita mengelola biaya-biaya di luar produksi, misalnya pinjaman bank. Itu juga memberatkan,” jelas Suryandi.
Chandra Asri juga menilai pertumbuhan permintaan produk petrokimia Indonesia masih memiliki prospek positif seiring perkembangan ekonomi nasional. Perusahaan memperkirakan pertumbuhan permintaan produk petrokimia bisa berada di kisaran 5%-6% per tahun, bahkan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi.
Namun, besarnya permintaan tersebut belum sepenuhnya bisa dinikmati industri domestik apabila produk impor terus membanjiri pasar. Karena itu, perusahaan menilai penguatan industri hilir dan daya saing produk dalam negeri menjadi penting agar ketergantungan terhadap impor tidak semakin besar.
“Kalau sekarang saja permintaan produk petrokimia yang bisa dipenuhi industri Indonesia sendiri hanya sekitar 60%, 40%-nya masih impor. Jadi bagaimana sekarang kita memenangkan industri hilirnya agar produk-produk dalam negeri tetap menjadi pilihan,” pungkasnya.
(fys/wur)
Leave a comment