
Jakarta, CNBC Indonesia – Generasi boomer sampai millenial banyak yang percaya pekerjaan di balik meja dan layar adalah masa depan. Namun kenyataan kini berbalik. Saat kecerdasan buatan atau AI mulai mengambil alih tugas administrasi perkantoran, generasi muda justru meninggalkan jalur itu. Mereka beralih ke pekerjaan yang mengandalkan keterampilan fisik yang ternyata penghasilannya bisa jauh lebih besar, bahkan mencapai miliaran rupiah setahun.
Perubahan ini paling terlihat di Amerika Serikat. Sekolah kejuruan kini dibanjiri pendaftar untuk jurusan pertukangan, pengelasan, manufaktur, dan teknik listrik. Dulu dianggap pilihan kedua, kini jalur ini justru dicari karena dinilai lebih aman dari perubahan teknologi.
Salah satu sekolah di Middleton menyuntikkan dana US$ 90 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun untuk melengkapi bengkel praktiknya dengan lengan robot canggih serta peralatan berbasis komputer. Hasilnya, lebih dari 2.300 siswa mendaftar dalam waktu singkat.
Pekerjaan tangan masa kini bukan lagi sekadar kerja fisik. Pabrik dan lokasi proyek kini dipenuhi mesin canggih dan sistem otomatisasi yang memerlukan keahlian khusus untuk mengoperasikannya. Kemampuan inilah yang sulit digantikan oleh algoritma, sehingga permintaan terhadap tenaga terampil terus naik tajam.
Salah satu contoh paling mencolok datang dari data center AI. Pembangunan ribuan pusat data yang menopang sistem kecerdasan buatan di seluruh dunia menciptakan permintaan besar terhadap tenaga teknis di lapangan, terutama teknisi listrik.
Pembawa acara televisi Mike Rowe menceritakan hal yang luar biasa saat mengunjungi sebuah data center besar di Texas. Para teknisi yang bekerja di sana berusia di bawah 30 tahun, tanpa gelar sarjana, dan berpenghasilan US$ 240.000 hingga US$ 280.000 per tahun – setara Rp 4,3 miliar hingga Rp 5 miliar per tahun. Mereka bisa mengambil jam lembur sebanyak yang dimau, bebas utang biaya pendidikan, dan diburu oleh perusahaan lain terus-menerus.
Quincy Millerjohn, pengajar pengelasan, menegaskan hal serupa. Pekerja di pabrik baja kini mendapat bayaran US$ 41 hingga US$ 52 per jam atau sekitar Rp 727.000 hingga Rp 922.000 per jam.
“Ada perubahan pandangan. Pekerjaan tangan kini menjadi profesi yang membutuhkan keahlian tinggi dan digaji tinggi. Anak muda menyukainya karena mereka bisa melihat hasil karya mereka secara nyata,” ujar John Mihm, konsultan pendidikan pemerintah Wisconsin.
Profesi yang Diramal Hilang Diganti AI
Pergeseran ini terjadi karena makin banyak pekerjaan di balik meja yang terancam digantikan sistem AI. Laporan Forum Ekonomi Dunia memperkirakan sekitar 83 juta lapangan kerja dapat berubah atau hilang dalam periode 2023-2027.
Sekitar 23% jenis pekerjaan akan mengalami perubahan besar, terutama di bidang administrasi, pencatatan, layanan pelanggan, hingga keuangan. Berikut 15 profesi yang diproyeksikan mengalami penurunan permintaan paling signifikan:
- Teller bank
- Petugas pos
- Kasir dan petugas loket tiket
- Staf entri data
- Sekretaris dan staf administrasi
- Staf pencatat stok
- Staf akuntansi, pembukuan, dan penggajian
- Anggota legislatif dan pejabat pemerintahan
- Staf statistik, asuransi, dan keuangan
- Penjual keliling dan pedagang langsung
- Petugas keamanan
- Manajer kredit dan pinjaman
- Penyelidik dan pemeriksa klaim asuransi
- Penguji perangkat lunak
- Manajer hubungan pelanggan
Sementara di Indonesia, tren serupa mulai terlihat. Perkembangan data center dan kebutuhan infrastruktur digital yang pesat menciptakan peluang bagi tenaga teknis yang sebelumnya kurang diperhatikan.
Pekerjaan yang memerlukan kehadiran fisik, keterampilan praktis, serta pemecahan masalah di lapangan justru semakin berharga karena sulit digantikan dari jarak jauh maupun oleh sistem otomatis. Teknisi listrik, tukang pendingin udara, pekerja konstruksi, hingga pengelasan kini semakin dicari seiring pembangunan pusat data dan jaringan komunikasi di berbagai daerah.
(dem/dem)
Leave a comment