
Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara hancur di tengah ambruknya harga minyak serta terbatasnya permintaan dari India.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (4/11/2026) ditutup di posisi US$ 147,5 per ton. Harganya jatuh 2,5%.
Pelemahan ini memperpanjang derita batu bara dengan jatuh dua hari beruntun. Harga penutupan kemarin adalah yang terendah sejak 30 September 2026.
Pelemahan juga menyeret batu bara ke level US$ 140 setelah sebulan terakhir ada di level US$ 150 per ton.
Pelemahan harga batu bara dipicu ambruknya harga minyak dan terbatasnya permintaan.
Minyak dan batu bara adalah komoditas substitusi sehingga harganya saling memengaruhi.
Harga batu bara termal di pelabuhan utara China bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan menguat. Berkurangnya pasokan batu bara berharga murah dan terbatasnya ketersediaan batu bara rendah sulfur mendorong penjual mempertahankan harga penawaran.
Namun, permintaan pembangkit listrik yang belum merata serta upaya pemerintah menjamin kecukupan pasokan membatasi potensi kenaikan harga secara signifikan.
Sejumlah pelaku pasar mulai memperkirakan harga berpotensi pulih tipis pada paruh kedua November. Meski demikian, pemulihan pasokan dari tambang domestik dan sikap hati-hati pembeli membuat harga sulit kembali ke level tertinggi sebelumnya.
Di India, total impor batu bara pada Agustus 2026 turun 5,83% secara tahunan menjadi 104 juta ton, dari 111 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.
Pemerintah India menyebut penurunan ini sebagai hasil peningkatan produksi domestik dan penguatan rantai pasok dalam negeri. Impor batu bara untuk pembangkit listrik turun 6% menjadi 21 juta ton, sementara impor untuk kebutuhan blending merosot 35% menjadi 3 juta ton.
Impor batu bara kokas juga menyusut 4% menjadi 27 juta ton. Porsi batu bara impor dalam total konsumsi nasional turun dari 21% menjadi 19%.
(mae/mae)
Leave a comment