
Jakarta, CNBC Indonesia – PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan smelter Manyar di Gresik, Jawa Timur, mulai berproduksi kembali pada September 2026 mendatang. Smelter kedua PTFI ini berhenti sejak kuartal IV tahun lalu karena tersendatnya pasokan konsentrat akibat insiden longsor lumpur bijih basah yang terjadi di area tambang bawah tanah kawasan Grasberg Block Cave (GBC) pada 8 September 2025 lalu.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, smelter Manyar dijadwalkan kembali memproduksi katoda tembaga mulai September 2026.
“Smelter nanti mulai bulan September sudah mulai akan produksi lagi,” kata Tony saat ditemui di Jakarta, dikutip Senin (10/8/2026).
Menurut Tony, saat ini, konsentrat tembaga dari Papua sudah mulai masuk ke smelter Manyar. Namun, Freeport masih menunggu volume konsentrat mencukupi sebelum menjalankan furnace dalam kapasitas yang lebih besar.
“Sementara ini konsentrat sudah mulai masuk dari Papua, sudah mulai masuk ke Manyar. Jadi mungkin, kan biar volumenya cukup dulu baru kita bakar di furnace,” katanya.
Tony mengatakan pengoperasian smelter tidak akan langsung mencapai kapasitas penuh pada September. Setidaknya, kapasitas smelter Manyar masih berada di bawah 30%.
Dia menyebut, hingga akhir tahun ini kapasitas produksi bijih tembaga dari tambang bawah tanah Freeport baru akan mencapai sekitar 65% dari kapasitas. Adapun produksi tambang bawah tanah diperkirakan bisa mendekati 100% pada akhir 2027.
“Ya itu tadi, menuju 100% di tahun 2027 akhir,” ujarnya.
Sebagai informasi, smelter PTFI merupakan fasilitas pemurnian konsentrat tembaga yang terletak di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE, Manyar, Gresik, Jawa Timur. Proyek yang dibangun sejak Oktober 2021 ini akhirnya telah resmi memproduksi katoda tembaga perdana pada Senin, 23 September 2024 lalu. Produksi perdana katoda tembaga smelter kedua PT Freeport Indonesia ini diresmikan oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Proyek smelter dengan desain single line terbesar di dunia ini memiliki kapasitas pengolahan 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun dan memproduksi sekitar 600.000-700.000 katoda tembaga per tahun.
Bersama dengan smelter pertamanya yang dikelola PT Smelting Gresik, kedua smelter milik PT Freeport Indonesia ini akan memurnikan total 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun, dan menghasilkan 1 juta ton katoda tembaga, 50 ton emas, dan 200 ton perak.
Mengutip laporan PTFI, nilai investasi kumulatif untuk proyek smelter Manyar yang menempati lahan seluas 100 hektare di JIIPE, Gresik, Jatim itu sudah mencapai US$ 3,7 miliar atau Rp 58 triliun.
Smelter ini dilengkapi Unit Refinery, Unit Pemurnian Logam Mulia, Unit Oksigen, Unit Asam Sulfat dan Unit Desalinasi serta Unit Effluent and Wastewater Treatment Plant untuk mendukung pemanfaatan maksimal bahan baku, produk samping maupun limbah agar dapat mencapai high efficiency smelting and refining process.
(ven/wia)
Leave a comment