
Jakarta, CNBC Indonesia – YouTube memperketat sistem rekomendasi bagi pengguna remaja untuk mengurangi paparan berulang terhadap konten yang berpotensi memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri. Konten yang dibatasi termasuk video yang mengidealkan bentuk tubuh atau standar tubuh tertentu.
Melansir Euro News, kebijakan tersebut berangkat dari masukan Youth and Families Advisory Committee, yang memberikan pandangan kepada YouTube mengenai perkembangan remaja dan dampak konsumsi konten digital terhadap kesejahteraan mereka.
YouTube menyebut remaja lebih rentan membentuk pandangan negatif mengenai dirinya ketika berulang kali melihat pesan yang menggambarkan standar tertentu sebagai sesuatu yang ideal.
Melalui sistem rekomendasinya, YouTube biasanya menyarankan video berdasarkan riwayat tontonan pengguna. Mekanisme tersebut dapat membuat seseorang terus menerima video dengan tema serupa. Menurut YouTube, sebuah video mungkin tidak bermasalah jika ditonton satu kali, tetapi paparan berulang terhadap kategori tertentu dapat menjadi persoalan bagi sebagian remaja.
Konten apa yang dibatasi?
YouTube mengatakan sistemnya akan membatasi rekomendasi berulang terhadap sejumlah kategori video, antara lain konten yang membandingkan karakteristik fisik dan mengidealkan jenis penampilan tertentu, serta video yang mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu.
Kebijakan ini bukan berarti seluruh video mengenai olahraga, kebugaran, berat badan, atau penampilan akan dihapus dari YouTube. Fokusnya adalah mengurangi kemungkinan remaja terus-menerus diarahkan ke video dengan tema serupa.
YouTube sebelumnya telah menerapkan perlindungan tersebut secara lebih terbatas dan kemudian memperluas penerapannya secara global. Pada Maret 2025, perusahaan juga mengumumkan perluasan kategori konten yang dapat dianggap bermasalah jika dikonsumsi secara berulang oleh sebagian remaja.
Mengapa body image menjadi perhatian?
Perhatian terhadap rekomendasi algoritmik muncul karena media sosial dapat menjadi salah satu jalur yang memperkenalkan anak dan remaja pada konten mengenai tubuh, makanan, olahraga, serta gangguan makan.
Ofcom, regulator komunikasi Inggris, menyebut sistem rekomendasi memiliki risiko dalam mengarahkan anak kepada konten gangguan makan. Penelitian yang dirujuk Ofcom juga menemukan bahwa keterlibatan anak dengan topik seperti citra tubuh, olahraga, makanan, selebritas, dan influencer gaya hidup dapat berujung pada rekomendasi konten gangguan makan, bahkan ketika anak tidak secara aktif mencarinya.
Paparan tersebut juga tidak memberikan dampak yang sama kepada setiap remaja. Faktor seperti pengalaman pribadi, cara seseorang memandang tubuhnya, serta kemampuan memahami dan mengevaluasi konten digital dapat memengaruhi bagaimana konten tersebut diterima.
Regulator ikut menekan platform digital
Perubahan kebijakan YouTube juga berlangsung di tengah meningkatnya perhatian regulator terhadap sistem rekomendasi media sosial dan keselamatan anak.
Di Inggris, Ofcom telah menetapkan berbagai kewajiban bagi layanan online untuk mengurangi risiko anak terpapar konten berbahaya. Aturan tersebut mencakup kewajiban bagi layanan dengan sistem rekomendasi untuk memastikan algoritmanya tidak bekerja dengan cara yang membahayakan anak.
Pada Mei 2026, Ofcom juga mengatakan telah meningkatkan pengawasan terhadap TikTok dan YouTube setelah keduanya dinilai belum memberikan penjelasan yang cukup mengenai bagaimana mereka akan membuat sistem rekomendasi lebih aman bagi anak.
Ofcom kini bahkan menjalankan riset menggunakan akun yang merepresentasikan pengguna berusia 13 hingga 17 tahun untuk mengamati konten apa yang direkomendasikan kepada mereka oleh layanan media sosial dan berbagi video.
Dengan kebijakan baru ini, YouTube pada dasarnya tidak melarang remaja menonton seluruh konten kebugaran atau kesehatan. Perubahan utamanya terletak pada bagaimana algoritma menyusun tontonan berikutnya, terutama untuk mencegah paparan berulang terhadap konten yang dapat memperkuat standar tubuh atau penampilan tertentu.
Bagi YouTube, pendekatan tersebut dimaksudkan untuk tetap memberikan ruang bagi remaja mengeksplorasi berbagai topik, sembari mengurangi risiko mereka terjebak dalam rangkaian rekomendasi konten yang sama secara terus-menerus.
(hsy/hsy)
Leave a comment