
Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan selisih atau spread imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia dengan US Treasury tenor 10 tahun semakin menyempit. Per 7 Oktober 2026, spread imbal hasil tersebut tercatat sebesar 188 basis poin (bps).
Suahasil mengatakan, penyempitan spread tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi perlu menawarkan selisih imbal hasil yang terlalu besar untuk menjaga daya tarik investasi di pasar keuangan.
“Kita bersyukur bahwa selisih suku bunga yang harus kita tawarkan supaya Indonesia itu tetap menarik, tetap atraktif, makin hari makin kecil. Dulu harus kita berikan baru atraktif kalau dikasih 400 basis point, 500 basis point. Terakhir, ini adalah angka 7 Oktober, berarti angka kemarin kita cukup memberikan 188 basis point,” ujar Suahasil di Kuningan, Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Spread imbal hasil Indonesia tersebut juga tercatat lebih rendah dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya. Sebagai perbandingan, spread Filipina mencapai 240 bps, Afrika Selatan 379 bps, Meksiko 409 bps, dan Brasil 765 bps. Adapun, data spread India belum dicantumkan dalam paparan yang tersedia.
Menurut Suahasil, semakin tipisnya spread imbal hasil mencerminkan kepercayaan investor terhadap pengelolaan ekonomi makro Indonesia.
Kepercayaan tersebut dinilai turut mendukung aliran modal asing (capital inflow) ke pasar keuangan domestik, baik melalui SBN maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Dengan kita punya spread yang lebih kecil, kita tadi seperti saya sampaikan di depan telah mampu menjaga capital inflow saat ini, baik melalui SBN, baik melalui Surat Berharga Bank Indonesia (SRBI),” katanya.
(ras/haa)
Leave a comment